KONTRADIKSI OMA IRAMA: MENOLAK NASAB BAALAWI, NAMUN MENGAKU GELAR SAYYID MELALUI IMAM UBAIDILLAH
Jum'at, 10 April 2026
Faktakini.info
Anton Syakiri
KONTRADIKSI ROMA IRAMA: MENOLAK NASAB BAALAWI, NAMUN MENGAKU GELAR SAYID MELALUI IMAM UBAIDILLAH
Fenomena penggunaan gelar keagamaan dan status nasab seringkali menjadi sorotan publik, terutama ketika terdapat ketidaksesuaian antara argumen yang disampaikan dengan klaim yang diakuinya. Salah satu kasus yang menarik perhatian adalah sikap yang ditunjukkan oleh Roma Irama terkait status nasab dan gelar yang disandangnya.
Dalam berbagai pernyataan yang beredar, Roma Irama diketahui bersikap keras tidak mengakui validitas nasab kelompok Ba’alawi. Alasannya yang paling mendasar adalah karena ia menganggap bahwa Imam Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir—tokoh sentral dalam silsilah keturunan Nabi yang menjadi rujukan utama bagi keluarga Ba’alawi—adalah sosok yang fiktif atau tidak pernah ada secara historis.
Pandangan ini tentu menjadi landasan baginya untuk menolak atau meragukan keabsahan garis keturunan yang dipegang teguh oleh komunitas Ba’alawi selama berabad-abad.
Ironi: Mengaku Sayid lewat Jalur yang Sama
Namun, di balik penolakannya tersebut, terdapat sebuah ironi dan inkonsistensi yang mencolok. Di saat yang sama, Roma Irama justru mengaku dan menerima gelar Sayid sebagai status kehormatannya.
Gelar ini diklaim bersumber melalui jalur nasab Raden Arya Wangsakara, seorang tokoh sejarah yang sangat dihormati, dikenal sebagai pendiri Tangerang dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Masalahnya, jika ditelusuri lebih jauh secara historis dan genealogis berdasarkan sumber-sumber yang ada, silsilah Raden Arya Wangsakara sendiri diyakini dan tercatat bersambung hingga ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur Imam Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir yang sama.
Data Silsilah Raden Arya Wangsakara
Berdasarkan berbagai naskah sejarah, babad, dan catatan genealogi yang berkembang di masyarakat, berikut adalah urutan silsilah Raden Arya Wangsakara yang menghubungkannya hingga ke Rasulullah SAW:
Raden Arya Wangsakara
bin Pangeran Wiraraja I
bin Prabu Kusumadinata II (Geusan Ulun)
bin ...
bin Syarif Abdulrohman (Sultan Cirebon)
bin ...
bin Sayyid Ali
bin Sayyid Jalaluddin
bin Sayyid Umar
bin Sayyid Muhammad
bin Sayyid Hasan
bin Sayyid Alwi
bin Sayyid Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir
bin Ahmad bin Isa
bin Muhammad bin Ali
bin Ja'far ash-Shadiq
bin Muhammad al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin
bin Imam Husein
bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra
bin Nabi Muhammad SAW
Analisis Logika Silsilah
Dengan data silsilah di atas, terdapat paradoks logis yang sangat jelas:
1. Roma Irama menolak nasab Ba’alawi karena menganggap Imam Ubaidillah adalah sosok fiktif.
2. Namun, Roma Irama mengaku Sayid lewat Raden Arya Wangsakara yang nasabnya juga bermula dari Imam Ubaidillah yang sama.
Secara akademis dan logika genealogi, jika seseorang menganggap mata airnya tidak ada atau palsu, maka mustahil ia dapat mengaku bahwa air yang mengalir dari mata air tersebut adalah asli dan valid. Penolakan terhadap tokoh sentral dalam rantai silsilah seharusnya berimplikasi pada putusnya garis keturunan tersebut.
Daftar Sumber Referensi
Data mengenai silsilah dan sejarah Raden Arya Wangsakara diambil dari berbagai sumber terpercaya antara lain:
1. Babad Tangerang dan Babad Banten – Naskah tradisional yang mencatat sejarah dan silsilah tokoh-tokoh di wilayah Banten dan Tangerang.
2. Kitab Paririmbon Ka-aria-an Parahyang – Dokumen kuno yang memuat catatan genealogi bangsawan dan ulama di Jawa Barat.
3. Buku Aria Wangsakara Tangerang: Imam Kesultanan Banten, Ulama Pejuang Anti Kolonialisme (1615-1681) karya Mufti Ali (2019) – Karya akademik yang menjadi dasar pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
4. Buku Ki Luluhur: Rekam Jejak Sejarah Raden Aria Wangsakara karya Lutfi Abdul Gani (2020).
5. Sumber Lisan dan Catatan Genealogi Keluarga – Tradisi pencatatan silsilah yang terjaga di kalangan keturunan Raden Arya Wangsakara.
Kesimpulan
Kondisi ini menunjukkan adanya kerancuan yang mendasar dalam memahami struktur silsilah dan sejarah keturunan Nabi Muhammad SAW. Sikap yang memilah-milah bagian silsilah—menerima satu sisi namun menolak sisi lainnya padahal berasal dari sumber yang sama—menunjukkan kurangnya pemahaman yang utuh mengenai genealogi Islam.
