Empat Tahun Buzzer Imad Ribut, Umat Tetap Datangi Habaib: Drama Panjang yang Salah Sasaran

 


Rabu, 1 April 2026

Faktakini.info, Jakarta - Sudah lebih dari empat tahun: team cyber, buzzer dan youtuber Sekte Imad bin Sarman (orang-orang gila nasab) menjadikan habaib sebagai proyek utama kehidupan digitalnya. Setiap hari ada video baru, tuduhan baru, analisis baru, dan tentu saja — kemarahan baru dari kelompok yang sangat iri dan dengki pada nasab Habaib itu. Seolah tanpa polemik, mesin konten mereka kehilangan bahan bakar.

Masalahnya hanya satu: realitas tidak ikut bekerja sama.

Alih-alih runtuh, majelis habaib justru makin ramai. Haul makin padat. Jamaah bertambah. Undangan dakwah terus berjalan seperti biasa. Naqobah Asyraf dan Ahli Nasab dunia makin kompak dan mesra dengan Rabithah Alawiyah dan para habaib.  

Dunia nyata bergerak tenang, sementara dunia maya dipenuhi suara yang semakin meninggi.

Dan di situlah ironi mulai terasa.

Ketika Target Tidak Jatuh, Narasi Dipaksa Jatuh

Awalnya mungkin disebut kritik. Lalu berubah menjadi kampanye. Setelah itu menjadi rutinitas. Kini terlihat seperti kebiasaan yang sulit dihentikan.

Topiknya sama. Kesimpulannya sama. Emosinya meningkat.

Setiap beberapa waktu muncul video dari buzzer Imad dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya — seolah volume suara bisa menggantikan kekuatan argumen. Padahal publik perlahan memahami pola: bukan fakta baru yang muncul, melainkan kemarahan lama yang diputar ulang.

Jika suatu isu harus dijelaskan ribuan kali tanpa mengubah kenyataan sosial, mungkin masalahnya bukan pada umat — tetapi pada strateginya.

Algoritma Lebih Dicintai daripada Realitas

Media sosial menciptakan ekosistem unik: kemarahan menghasilkan penonton, penonton menghasilkan validasi, dan validasi membuat seseorang merasa sedang memenangkan sesuatu.

Padahal yang menang sering kali hanya angka view. Disinilah buzzer Imad tertipu, dan akibatnya semakin tenggelam dan halusinasi dan khayalan kemenangan yang menyesatkan.

Sementara itu, di luar layar, masyarakat membuat keputusan sederhana: datang atau tidak datang ke majelis. Dan angka kehadiran nyata sering kali lebih jujur daripada statistik digital. Walaupun para buzzer Imad kadang ngeles dengan berkata: Massa dibayar oleh Habib, dimobilisasi Habib, dan seabreg tuduhan lainnya. Tapi itu wajar, suara hati pendengki yang menolak menerima realita.

Lucunya, semakin keras serangan dilancarkan oleh para buzzer dan youtuber Imad, semakin besar rasa penasaran publik terhadap pihak yang diserang. Tanpa sadar, para pengkritik berubah fungsi menjadi tim pemasaran gratis.

Sebuah strategi yang secara tidak sengaja mempromosikan lawan sendiri. Buktinya nyatanya terlihat jelas, majelis dan acara Habaib semakin ramai dan membludak dimana-mana. Karena itu muncul sindiran ironi: Harusnya para Habaib harus berterima kasih kepada team cyber, buzzer dan youtuber Imad.

Industri Kemarahan

Ada fase ketika kritik berhenti menjadi pencarian kebenaran dan berubah menjadi identitas. Pada titik ini, konflik bukan lagi alat — tetapi sumber eksistensi.

Konten harus terus ada. Musuh harus tetap hidup. Amarah harus dijaga agar audiens tidak pergi.

Karena tanpa konflik, panggung menjadi sunyi.

Dan bagi sebagian orang, kesunyian jauh lebih menakutkan daripada salah.

Kontras yang Terlihat Jelas

Di satu sisi:

majelis berjalan,

dakwah berlangsung,

jamaah berkumpul,

kegiatan sosial terus hidup. Habaib dan muhibbin semakin asyik menjalani dan menikmati indahnya kehidupan mereka.

Di sisi lain kubu Imad:

livestream maraton,

judul provokatif,

respons emosional,

dan perang komentar tanpa akhir. Buzzer Imad semakin dalam berkubang di dunia maya dan tak mau melihat apalagi mengakui indah dan semaraknya acara-acara Habaib di dunia nyata.

Satu bergerak membangun komunitas. Satu lagi terlihat sibuk melawan bayangan yang tidak kunjung tumbang.

Publik tidak buta melihat perbedaan ini.

Ketika Realitas Menjadi Kritik Paling Keras

Tidak semua kekalahan diumumkan secara resmi. Kadang ia terlihat dari perubahan nada bicara: semakin emosional, semakin reaktif, semakin sulit menerima bahwa masyarakat memiliki pilihan sendiri.

Empat tahun adalah waktu yang panjang. Cukup panjang untuk membuktikan apakah sebuah gerakan benar-benar mengubah masyarakat — atau hanya menghibur pengikutnya sendiri.

Dan sejauh ini, jawabannya tampak jelas di lapangan.

Penutup: Energi yang Habis oleh Ambisinya Sendiri

Sejarah sosial berulang dengan pola yang sama: gerakan yang hidup dari perlawanan terus membutuhkan konflik agar tetap relevan. Namun ketika masyarakat tidak ikut marah, energi itu perlahan habis oleh dirinya sendiri.

Bukan karena dilawan.

Tetapi karena ditinggalkan.

Dan mungkin inilah ironi terbesar dari polemik panjang ini — semakin keras para buzzer dan youtuber Imad menyerang, semakin nyata bahwa sasaran sebenarnya tidak pernah benar-benar goyah.