DZIKRUL GHOFILIN: BUKTI CINTA ULAMA NUSANTARA KEPADA PARA HABAIB

 


Rabu, 28 April 2026

Faktakini.info

DZIKRUL GHOFILIN: BUKTI CINTA ULAMA NUSANTARA KEPADA PARA HABAIB

Amalan Dzikrul Ghofilin bukan sekadar rangkaian doa, melainkan saksi bisu betapa mendalamnya ikatan batin antara ulama Nusantara dengan keturunan Rasulullah SAW (Habaib). Di tengah munculnya narasi yang meragukan kredibilitas habaib, Dzikrul Ghofilin berdiri tegak sebagai bukti sejarah bahwa para kiai sepuh kita menempatkan habaib dalam posisi spiritual yang sangat mulia.

 Tawasul kepada Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

Salah satu poin sentral dalam tawasul Dzikrul Ghofilin adalah penyebutan nama Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (penyusun Ratibul Haddad). Beliau digelari sebagai Suthonul Mala’ dan Quthbul Irsyad. Masuknya nama beliau dalam naskah tawasul yang disusun oleh Gus Miek dan KH. Achmad Siddiq menunjukkan dua hal penting:

   1. Pengakuan Kewalian: Ulama Nusantara mengakui derajat kewalian dan kesucian nasab Habib Abdullah al-Haddad.

   2. Ketersambungan Sanad: Dengan bertawasul kepada beliau, para kiai ingin memastikan bahwa zikir umat Islam di Indonesia tersambung secara ruhani hingga ke pangkuan Rasulullah SAW melalui jalur keturunan beliau yang murni.

 Mematahkan Narasi "Kiai Korban Kibul"

Belakangan ini, muncul opini yang mencoba menggiring masyarakat untuk percaya bahwa para kiai yang mencintai habaib adalah korban penipuan sejarah atau "dikibuli". Namun, fakta pada Dzikrul Ghofilin membatalkan logika tersebut:

Bukan Sekadar Kertas: Ulama sekaliber KH. Achmad Siddiq (intelektual NU) dan Gus Miek (ulama kasyaf) tidak menyusun tawasul berdasarkan kabar burung. Mereka memiliki ketajaman batin dan kedalaman ilmu yang luar biasa. Menuduh mereka "dikibuli" sama saja dengan merendahkan kualitas intelektual dan spiritual pilar-pilar ulama Nusantara.

Ijtihad Ruhani: Bagi para penyusun Dzikrul Ghofilin, menghormati habaib adalah perintah adab. Mereka meyakini bahwa mencintai keturunan Nabi adalah bagian tak terpisahkan dari mencintai Nabi itu sendiri. Hubungan ini didasari oleh "rasa" dan "penyaksian batin", bukan sekadar perdebatan naskah yang baru muncul belakangan.

Warisan Adab yang Tak Tergoyahkan

Dzikrul Ghofilin mengajarkan bahwa untuk sampai kepada Allah, kita membutuhkan wasilah (perantara) orang-orang yang dicintai-Nya. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad adalah salah satu pintu tersebut. Hingga saat ini, jutaan jamaah masih setia mengamalkan zikir ini, membuktikan bahwa umat lebih mempercayai bimbingan spiritual para kiai sepuh daripada narasi kebencian yang mencoba memutus tali cinta kepada Habaib.

Kesimpulan

Dzikrul Ghofilin adalah monumen cinta ulama Nusantara. Ia menjadi bukti bahwa bagi kiai-kiai kita, habaib adalah pelita yang menerangi jalan spiritual umat. Upaya untuk memisahkan kiai dan habaib dengan narasi "dikibuli" tidak akan berhasil selama amalan Dzikrul Ghofilin masih berkumandang di langgar-langgar dan pesantren, menjaga api cinta kepada Rasulullah dan keluarganya tetap menyala.