Aksi Premanisme, Ketua Golkar Ditikam Hingga Tewas, Ngeri Wak!
Senin, 20 April 2026
Aksi Premanisme, Ketua Golkar Ditikam Hingga Tewas, Ngeri Wak!
Korupsi merajalela, premanisme tak kalah sadisnya. Ketua Golkar Maluku Tenggara ditikam hingga tewas. Benar-benar ngeri, wak. Koptagul dulu lah ye..!
Kalau bandara sudah jadi tempat tikam-menikam, ini bukan lagi negeri +62, wak. Ini sudah kayak adegan film laga yang sutradaranya lupa bilang “cut!”. Tempat orang landing dengan selamat, malah ada yang “take off” ke alam lain.
Korban adalah Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora atau lebih dikenal dengan Nus Kei. Tokoh, elit, orang penting. Tapi di hadapan dendam, jabatan itu cuma seperti boarding pass yang tak berlaku.
Kejadian berlangsung di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu siang, 19 April 2026, sekitar pukul 11.25 WIT. Matahari terang benderang, orang lalu-lalang, suasana normal. Nus Kei baru saja mendarat dari Jakarta. Jalan santai menuju pintu keluar. Mungkin dalam pikirannya masih ada agenda, mungkin juga sudah membayangkan kopi siang.
Eh, belum sempat sampai pintu keluar, hidupnya “dipotong” di tengah jalan.
Dari arah tak terduga, pelaku datang. Bukan ajak debat, bukan ajak mediasi. Langsung ajak duel pakai senjata tajam. Tik! Tik! Tik! Serangan cepat, brutal, tanpa basa-basi. Ini bukan lagi konflik, ini sudah eksekusi gaya premanisme level dewa.
Secara fisika sederhana. Kalau benda tajam dengan energi dorong cukup menembus tubuh manusia, yang terjadi bukan cuma luka. Itu kerusakan sistem. Pembuluh darah robek, organ kena, tekanan turun drastis. Dalam hitungan menit, tubuh kehilangan kendali. Di situlah garis hidup berubah jadi garis akhir.
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Ada usaha, ada harapan. Tapi seperti baterai yang sudah habis total, tubuh tak bisa di-charge lagi. Nus Kei dinyatakan meninggal dunia.
Polisi langsung bergerak cepat. Dua pelaku berhasil diamankan. Motifnya? Klasik tapi mematikan, dendam lama.
Nah ini dia penyakit kronis kita. Dendam itu kayak api dalam sekam. Disimpan, dipelihara, diberi makan emosi tiap hari. Lama-lama bukan sekadar hangat, tapi jadi bara. Begitu ada angin sedikit, boom! Meledak.
Ini bukan kejadian tunggal. Belum lama ini, di Lumajang, Kepala Desa di Lumajang juga jadi korban keganasan manusia. Dicelurit, bukan satu orang, tapi sepuluh orang. Bayangkan, wak. Satu orang diserang ramai-ramai. Ini bukan lagi konflik, ini sudah seperti “event kekerasan berjamaah”.
Dari Lumajang ke Maluku Tenggara, polanya sama. Emosi naik → akal turun → senjata keluar → nyawa melayang.
Seolah-olah, sebagian manusia kita ini kalau marah, langsung upgrade jadi karakter game, skill kekerasan aktif, logika dimatikan.
Padahal kalau mau jujur, banyak konflik itu bisa selesai dengan cara sederhana. Duduk, ngomong, seruput kopi, selesai. Tapi tidak. Yang dipilih justru jalan tercepat menuju penjara.
Dampaknya? Bukan cuma satu keluarga yang hancur. Tapi efek domino.
Di Maluku Tenggara, agenda Musda Golkar yang harusnya digelar 23 April 2026 langsung ditunda. Politik daerah goyang. Kader berduka. Struktur organisasi kehilangan nahkoda.
Kasus ini sekarang ditangani Polda Maluku. Kita harap bukan sekadar cepat, tapi juga dalam. Jangan cuma tangkap pelaku, tapi gali akar. Karena dendam itu jarang tumbuh sendirian, biasanya ada pupuknya. Konflik lama, ego, bahkan mungkin kepentingan.
Yang paling ngeri adalah pesan tak tertulis dari kejadian ini, “Di mana pun, kapan pun, siapa pun bisa jadi korban.”
Bandara saja bisa ditembus. Tempat yang harusnya paling aman, malah jadi panggung tragedi.
Akhirnya kita harus jujur pada diri sendiri. Ini bukan sekadar masalah hukum. Ini masalah mental, masalah cara kita mengelola marah. Kalau tiap konflik diselesaikan dengan senjata, maka yang akan menang bukan keadilan, tapi ketakutan. Kalau ketakutan yang memimpin, maka negeri ini bukan lagi rumah. Tapi arena.
Ingat! Pisau itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Dia cuma memindahkan masalah… dari dunia ini ke liang lahat.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadu Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
