Ulama Seluruh Dunia Sepakat Bahwa Salafi Wahabi Bukan Ahlussunnah

 


Ahad, 1 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Saat ini banyak kelompok yang menyatakan diri sebagai kelompok yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah. Padahal, kelompok-kelompok tersebut sangat jauh dari nilai-nilai Ahlussunnah. Salah satu dari kelompok tersebut adalah Salafi Wahabi.

Dalam Muktamar Ahlussunnah wal Jamaah yang diselenggarakan oleh Ulama Muslim Internasional di Grozny, Ibukota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016 lalu, bersepakat mengangkat tema “Siapakah Ahlussunnah wal Jamaah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlussunnah wal Jamaah dalam Aqidah, Fiqih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan Darinya di Tataran Realitas”.

Muktamar yang dikenal sebagai Konferensi Chechnya tersebut dihadiri Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Mesir juga menghadiri perjumpaan ini dengan mengutus para ulama terkemuka Universitas Al-Azhar, Kairo. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.

Muktamar Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak dari kelompok Wahabi yang merepresentasikan diri sebagai kelompok yang paling Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideologi kekerasan.

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Chechnya menegaskan bahwa Aswaja adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni sesuai manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Junaid serta para ulama yang meniti jalannya.

Konferensi Grozny 2016 di Grozny, secara resmi bernama “Who Are Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah?” dan diselenggarakan di Rusia (Republik Chechnya).

Konferensi ini diprakarsai oleh otoritas keagamaan Chechnya di bawah kepemimpinan politik Ramzan Kadyrov dan dihadiri sejumlah ulama dari berbagai negara.

🔎 Apa Keputusan Utamanya?

Dalam pernyataan akhirnya, peserta konferensi menyebut bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) adalah mereka yang:

Dalam aqidah mengikuti:

Asy’ariyah (ajaran Abu al-Hasan al-Ash'ari)

Maturidiyah (ajaran Abu Mansur al-Maturidi)

Dalam fiqh mengikuti salah satu dari empat mazhab:

Hanafi

Maliki

Syafi’i

Hanbali

Dalam tasawuf mengikuti tradisi tasawuf Sunni (seperti Junaydi, dll).

👉 Yang menjadi kontroversi:

Dalam redaksi awalnya, konferensi ini tidak memasukkan Salafi/Wahabi sebagai bagian dari definisi Aswaja. Karena itu muncul kesimpulan populer: “Konferensi Chechnya menyatakan Wahabi bukan Aswaja.”

⚠ Reaksi & Kontroversi

Keputusan ini memicu reaksi keras dari ulama dan institusi di Arab Saudi.

Banyak ulama Saudi menilai konferensi itu bermuatan politik.

Mereka menyatakan bahwa Salafi adalah bagian dari Ahlus Sunnah karena berpegang pada aqidah salaf.

Beberapa peserta konferensi kemudian juga menjelaskan bahwa tujuan utama mereka adalah membatasi ekstremisme, bukan memvonis seluruh Salafi keluar dari Sunni.

Bahkan lembaga seperti Al-Azhar University yang diwakili dalam forum itu kemudian memberi klarifikasi bahwa isu tersebut tidak dimaksudkan untuk memecah belah Sunni secara luas.

🧠 Intinya

Secara resmi, dokumen konferensi mendefinisikan Aswaja dalam kerangka Asy’ari–Maturidi + 4 mazhab + tasawuf.

Salafi/Wahabi tidak disebut sebagai bagian dari definisi itu.

Namun secara global, status Wahabi sebagai bagian dari Sunni tetap menjadi perdebatan teologis dan politik, bukan keputusan yang mengikat seluruh dunia Islam.

Berikut ringkasan tokoh yang hadir dan isi pernyataan penutup Konferensi Grozny (25–27 Agustus 2016) di Grozny, Rusia.

👥 Tokoh yang Hadir (sebagian yang paling dikenal)

Ahmed el-Tayeb

Grand Imam Al-Azhar University (Mesir).

Abdullah bin Bayyah

Ulama Mauritania yang dikenal aktif dalam dialog dan isu moderasi.

Syekh Ali Jum'ah (Gomaa)

Mantan Mufti Besar Mesir.

Sejumlah mufti dan ulama dari Rusia, Suriah, Yordania, Yaman, Asia Tengah, dan wilayah Kaukasus.

Konferensi ini didukung oleh kepemimpinan Chechnya di bawah Ramzan Kadyrov.

📜 Inti Pernyataan Penutup

1️⃣ Definisi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja)

Dokumen akhir menyebut bahwa Aswaja adalah:

Dalam aqidah: Asy’ariyah & Maturidiyah

Dalam fiqh: mengikuti salah satu dari 4 mazhab Sunni

Dalam tasawuf: mengikuti tasawuf Sunni klasik (misalnya manhaj Junaydi)

2️⃣ Tidak Menyebut Salafi/Wahabi

Redaksi awal tidak memasukkan Salafi/Wahabi dalam definisi tersebut.

Inilah yang memicu kontroversi luas, terutama di Arab Saudi.

3️⃣ Penekanan pada “Islam Tradisional”

Konferensi menekankan pentingnya melawan ekstremisme dan takfirisme dengan kembali ke “Islam tradisional” (Asy’ari–Maturidi + mazhab + tasawuf).

⚠ Kontroversi Setelahnya

Sejumlah ulama dan institusi Saudi mengkritik konferensi ini.

Ada klarifikasi dari beberapa peserta bahwa tujuan utama adalah membatasi ekstremisme, bukan memvonis seluruh Salafi keluar dari Sunni.

Perdebatan ini menjadi isu teologis sekaligus geopolitik.