TIGA DEKADE MENGENAL PEMBANGKANG KEKUASAAN ORBA-SRI BINTANG PAMUNGKAS

 



Senin, 9 Maret 2026

Faktakini.info

Sugito Atmo Pawiro

TIGA DEKADE MENGENAL PEMBANGKANG KEKUASAAN ORBA-SRI BINTANG PAMUNGKAS

Dalam hidup, ada orang yang tidak hanya kita kenal, tetapi juga kita hormati karena keberaniannya. Bagi saya, salah satu sosok itu adalah Sri Bintang Pamungkas-tokoh yang dikenal paling lantang menentang kekuasaan Orde Baru. Hubungan kami tidak lahir dari kedekatan biasa, melainkan dari perjumpaan dalam suasana perjuangan, ketika keberanian untuk berkata tidak kepada tirani kekuasaan menjadi sikap yang tidak semua orang berani ambil.

Tahun 1994 adalah momen pertama kali saya bertemu dengan beliau, menjelang Muktamar PPP di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi. Saat itu saya mahasiswa semester enam. Bersama para aktivis mahasiswa jogja, kami mencalonkan dan mendukung beliau, melawan petahana Ismail Hassan Metareum serta tokoh kharismatik PPP Kyai Alawy Muhammad. Kami bahkan membentangkan spanduk dukungan untuk Sri Bintang. Akibatnya, saya ditangkap polisi selama 1×24 jam, hanya karena dianggap mendukung tokoh yang kritis terhadap pemerintah.

Sejak itu beliau beberapa kali kami undang ke kampus UII. Dari dulu UII memang dikenal sebagai kampus gerakan yang berani bersuara keras terhadap rezim. Setiap kali beliau datang, kami merasakan keteguhan seorang tokoh yang tidak hanya berbicara tentang keberanian, tetapi benar-benar menjalaninya.

Satu peristiwa lain yang sangat membekas adalah ketika beliau ditangkap, ditahan dan disidangkan di PN Jakarta Pusat atas tuduhan subversif. Saya mengajak para aktivis Jogja  untuk demo di Jakarta menyerukan pembebasannya. Akibatnya, saya ditangkap untuk 1 X 24 jam di Polres Jakarta Pusat. Peristiwa itu membuat saya semakin memahami bahwa keberanian memang sering menuntut harga yang tidak ringan.

Waktu terus berjalan. Suatu ketika, saat beliau berziarah ke makam orang tuanya di Ngawi, Jawa Timur, saya berkesempatan menemani beliau. Perjalanan itu terasa sederhana, tetapi bagi saya sangat bermakna—karena di balik sosok yang dikenal keras terhadap kekuasaan, saya melihat seorang manusia yang tetap hangat, bersahaja, dan penuh kesetiaan pada nilai-nilai yang diyakininya.

Kedekatan personal saya terhadap beliau berpengaruh terhadap pilihan akademik dalam menyusun tugas akhir.  Saya menulis skripsi dengan judul “Recall anggota DPR RI: Studi Kasus Sri Bintang Pamungkas”. Tema itu saya pilih karena pengalaman beliau yang di-recall dari parlemen akibat suara kritisnya menentang pemerintah. Bagi saya, itu bukan sekadar topik akademik, melainkan refleksi tentang bagaimana kekuasaan membungkam keberanian yang menolak tunduk.

Hubungan kami selanjutnya terus terjaga dengan baik. Minggu lalu, sepulang umrah, saya datang ke kediaman beliau. Sebagai sahabat saya membawakan oleh-oleh sederhana: parfum, kurma, dan sedikit buah. Beliau menyambut dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu—hangat, bersahaja, tanpa jarak. Beliau tetap hidup sederhana seperti yang pertama kali saya kenal lebih dari tiga puluh tahun lalu. Waktu berubah, rezim berganti, banyak orang berubah arah, tetapi idealisme beliau tetap sama.

Dari beliau saya belajar satu hal yang tidak pernah saya lupakan: keberanian sejati sering kali membuat seseorang harus berjalan sendirian, tetapi justru di situlah kehormatan seorang manusia diuji. Dan bagi saya, Sri Bintang Pamungkas adalah salah satu dari sedikit orang yang tetap tegak menjaga kehormatan itu.

Tiga dekade mengenal beliau membuat saya percaya bahwa sejarah mungkin tidak selalu memihak orang yang berani. Tetapi keberanian selalu menyalakan harapan, menginspirasi banyak orang, dan meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Sebagaimana apa yang saya yakini “Orang berani mungkin tidak selalu memenangkan zamannya, tetapi keberaniannya selalu memenangkan Sejarah”. 

Dan Sejarah telah membuktikan itu, ketika gelombang reformasi 1998 yang dipelopori Sri Bintang dan tokoh lainnya menyapu bangunan kekuasaan totaliter Orde Baru.