Silaturahmi Habib Taufiq di Mekkah, Sayyid Ahmad Minta Habaib Sabar Hadapi Fitnah Nashibi

 




Jum'at, 20 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf, melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki Al Hasani di Kota Mekkah, Arab Saudi, Sabtu 1 Maret 2025. Pertemuan kedua dzurriyah Rasulullah SAW tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, membahas berbagai persoalan umat serta kondisi sosial-keagamaan yang berkembang di Indonesia.

Info yang beredar, dalam kesempatan tersebut, Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki Al Hasani menyampaikan sejumlah nasihat kepada Habib Taufiq dan para habaib di Indonesia. Ia menekankan pentingnya menjaga kesabaran, persatuan, serta akhlak dalam menghadapi berbagai tuduhan, kritik, maupun polemik yang muncul di tengah masyarakat.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam pertemuan itu, Sayyid Ahmad mengingatkan agar para Habaib selaku keturunan Rasulullah SAW tetap mengedepankan sikap bijak dan tidak terpancing oleh provokasi atau narasi dan fitnah dari kaum nashibi (pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW). Ia juga menegaskan bahwa dakwah hendaknya terus dilakukan dengan pendekatan ilmu, adab, dan keteladanan.

Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan ulama dan tokoh Ahlul Bait lintas negara, khususnya antara ulama di Tanah Suci dan komunitas habaib di Indonesia. Pertemuan diakhiri dengan doa bersama agar umat Islam diberikan ketenangan, persatuan, dan perlindungan dari berbagai fitnah serta perselisihan.

Rabithah Alawiyah sendiri dikenal sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan pelestarian silsilah keturunan Alawiyyin di Indonesia, serta aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Pada kesempatan berikutnya, karena badai caci maki dan fitnah Sekte Imad bin Sarman, Abbas Tompel PWI-LS Habib-habib palsu cs terhadap Habaib masih berlanjut, Sayyid Ahmad akhirnya melontarkan kecaman keras kepada Imad cs.

Dalam acara Multaqo as-Shofwah al-Malikiyyah yang digelar di Brebes kemarin (20 Agustus 2025), Abuya as-Sayyid Ahmad bin Muhammad al-Maliki menyampaikan wasiat penting terkait persatuan umat dan kehormatan nasab para habaib.

Sayyid Ahmad Al Maliki sebut Sekte Imad pembenci Habaib adalah: orang-orang jahil, pendengki, kekanak-kanakan dan berhati busuk.

Terjemahan kutipan "Saadah Balaawi" dari Wasiat Abuya as-Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Maliki dalan Multaqo Hai'ah as-Shofwah al-Hasaniyyah di Brebes, 19-20 Agutus 2025 :

Berhati-hatilah dari fitnah di dalam tubuh (jamaah/umat), yang kadang muncul dari waktu ke waktu, berasal dari orang jahil, pendengki, kekanak-kanakan, atau berhati busuk. Fitnah seperti ini akan melemahkan ikatan cinta dan persaudaraan, memecah barisan, menanamkan keraguan dan kebencian. Padahal hal itu membuat Allah dan Rasul-Nya murka, serta membahagiakan setan dan bala tentaranya. Ketahuilah, tidak diragukan lagi bahwa para junjungan kita, keluarga Ba‘Alawi, adalah bagian dari ‘itrah (keturunan) Nabi yang suci. Nasab mereka telah sahih, akhlak mereka telah kokoh, perjalanan hidup dan amal shalih mereka telah mutawatir, meluas ke seluruh penjuru, dan hal itu diakui oleh penduduk bumi maupun langit.

Apabila mencela kehormatan seseorang termasuk dosa besar, dan menebar fitnah di antara manusia disebut Nabi ﷺ sebagai al-hāliqa (penggundul) yang mencukur habis agama, maka bagaimana halnya bila celaan itu ditujukan kepada nasab yang paling mulia dan keturunan yang paling terhormat? Bagaimana jika fitnah itu diarahkan kepada orang-orang yang Allah sucikan dalam Kitab-Nya yang agung dan melalui lisan Rasul-Nya yang mulia...?

Allah telah mengancam setiap orang yang menyakiti Rasul-Nya dengan azab yang menghinakan, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan akhirat, serta menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. al-Ahzāb: 57). Dan menyakiti Nabi ﷺ itu mencakup pula menyakiti keluarganya, baik dari keturunannya maupun istrinya.

Kita telah menyaksikan dari Abuya al-Imam al-Maliki, kesempurnaan adab dan penghormatannya kepada para ulama umat secara umum, dan kepada keluarga Ba‘Alawi secara khusus. Hal ini tampak dari cara mereka mengambil ilmu, menuliskan biografi, menyebutkan kemuliaan akhlak mereka dalam majelis ilmu, serta mendoakan mereka dalam karya-karya dan faidah-faidahnya. Beliau telah melahirkan sebuah manhaj yang patut diteladani, dan metode yang layak diikuti dalam berinteraksi dengan ahlul-‘ilm dan ahlul-khulq, khususnya dengan keluarga Ba‘Alawi. Hubungan beliau dengan mereka saling terikat: mereka berkumpul dan saling mencintai, mereka mengambil ilmu darinya dan beliau mengambil dari mereka, mereka saling berkunjung, saling memuji, saling melayani, saling memberi ijazah dan mengambil ijazah, bahkan mereka saling berbesanan.

Sejak dahulu hubungan ini telah berakar kuat, dimulai dari kakek beliau, al-Sayyid ‘Abbās al-Mālikī raḥimahullāh, kemudian berlanjut pada al-Sayyid ‘Alawī, lalu kepada Abuya al-Imām al-Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī al-Mālikī al-Ḥasanī, hingga kepada pecinta kalian Ini ( Abuya Sayyid Ahmad ). Alhamdulillāh, semoga Allah melanjutkannya pada anak-anak dan keturunan kita.

Apabila kalian mau, rujuklah kepada kitab-kitab sanad, daftar guru, berbagai rujukan, pelajaran yang terekam maupun tertulis, faidah-faidah dan syair-syair, niscaya kalian akan mengetahui betapa dalam hubungan ini dan hakikat ikatan tersebut. Adapun orang yang dengki, ia pasti terhalangi dari keberkahan ini.