Rumail Abbas: NEGARA PALESTINA MENDUKUNG KEMERDEKAAN INDONESIA?

 


Sabtu, 14 Maret 2026

Faktakini.info

Rumail Abbas

NEGARA PALESTINA MENDUKUNG KEMERDEKAAN INDONESIA?

Saat Zain Hassan menjadi penyebar informasi kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah (dia sendiri diaspora Indonesia yang tinggal di Kairo), ada satu masalah yang sering ia hadapi setiap kali membicarakan Indonesia kepada intelektual muslim:

"Memangnya Sukarno Islam?"

Bersama rekan-rekannya, pasca proklamasi dikumandangkan Sukarno-Hatta, tidak pernah terbersit permasalahan seperti itu akan muncul.

"Bagaimana meraih simpati warga Timur Tengah yang mayoritas muslim, jika masalah seperti ini justru jadi duri yang tidak bisa dipecahkan?" begitu batin Zain Hassan.

Ini cerita unik yang Zain Hassan ceritakan sendiri.

Singkatnya, ia teringat bahwa orang Indonesia kerap memakai nama Kanjeng Nabi sebagai nama anak mereka. Jika bukan "Muhammad", biasanya "Ahmad".

"Bagaimana kalau kita sebut saja Sukarno itu bernama Muhammad Sukarno?" salah seorang kolega memberi saran.

"Jangan. Nama 'Muhammad' sudah diambil Bung Hatta." kata Zain Hassan.

"Yaudah, kita panggil saja Ahmad Sukarno."

Akhirnya, di publik Timur Tengah waktu itu, Sukarno (yang kecilnya bernama Kusno), dipanggil dengan Ahmad Sukarno. Sementara Drs. Hatta dikenal dengan Muhammad Hatta.

Selama dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, Zain Hassan berusaha sekuat mungkin mencari pengakuan dari Dunia Islam, dan tentu saja Liga Arab adalah tujuan utamanya.

Di tahun pertama, ia sangat berhasil. Tapi ia memerlukan "bounding" dari proklamator. Awalnya, Sukarno diusulkan untuk datang ke Mesir. Nahas, agresi militer membuatnya gagal berangkat dan digantikan Bung Hatta di tahun kedua, bersama AR Baswedan (kakek Mas Anies Baswedan).

Di sebelah kanan Bung Hatta adalah Muhammad Amin. Orang-orang menulis "Husaini" tanpa "Al" karena dianggap nama. Padahal, lengkapnya adalah Sayid Muhammad bin Amin al-Husaini.

Betul, al-Husaini di namanya adalah nisbat untuk keturunan Imam Husain bin Ali.

Sayid Muhammad adalah tokoh yang cukup problematik. Di koran-koran Belanda yang saya baca (akhirnya saya baca lagi gara-gara Abu Janda bermain kotor di sinyal publik kemarin), namanya tak pernah harum. Ia dituduh macam-macam, apalagi ketika meminta tolong Hitler dan Mussolini mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Bahkan di penghujung usianya, namanya tidak kembali pulih. Alih-alih dikresditkan begitu dalam. Tak tanggung-tanggung, Presiden Gamal Abdul Nasir di Mesir dan Raja Abdullah di Yordania bahkan meminta pers di negara-negara Arab untuk mengulit nama baiknya, memfitnah, dan mengecilkan perannya.

Kenapa?

Tentu saja rekam jejaknya duduk bareng Hitler. Jadi, sampai ia sakit-sakitan (hingga meninggal) pun ia dianggap sebagai ancaman politik.

Di samping itu, saya sedikit perhatian dengan kisah ini adalah penuturnya adalah Zain Hassan. Tapi namanya, ia berdarah Yaman, dari kabilah Hassan.

Leluhurnya, bernama Abdurrahman bin Ali, pernah menulis sebuah kitab sejarah Yaman yang ditulis tahun 700-an Hijriyah. Manuskripnya sempat dianggap hilang, hingga akhirnya ditemukan oleh Sayid Ahmad Alatas, disimpan di Huraidlah, dan melanglangbuana hingga ke Oxford.

Nama manuskrip itu adalah Tarikh al-Wasith, dan di sana ada catatan bahwa leluhur Bani Alawi yang bernama Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam punya silsilah sampai ke Ubaid bin Ahmad bin Isa.

Benar, Ubaid bin Ahmad bin Isa, bukan Ubaidillah, bukan pula Abdullah. Tapi Ubaid.

Kembali ke pertanyaan awal: Apakah Palestina mendukung kemerdekaan RI benar-benar hoaks, seperti Abu Janda katakan?

Salam,

Rumail Abbas