Pernyataan Tegas Yusuf Diya al-Khalidi sarif Palestina kepada Theodor Herzl pendiri Zionisme tahun 1899

 

Rabu, 18 Maret 2026

Faktakini.info

Permulaan yang Terlupakan

Tahun 1899, Yusuf Diya al-Khalidi, seorang sarif Palestina dan pejabat Ottoman, menulis surat kepada Theodor Herzl pendiri Zionisme. Dalam surat itu ia menyatakan dengan tegas bahwa Palestina bukan tanah kosong yang menunggu penjajah, melainkan sudah dihuni oleh masyarakat yang hidup dan bernafas di sana selama berabad-abad.

Herzl membalas dengan mengabaikan inti pesan tersebut, justru menegaskan bahwa imigrasi Yahudi akan membawa kemakmuran bagi penduduk asli. Khalidi menunjukkan bahwa respons ini mencerminkan pola klasik kolonialisme: mengklaim tanah orang lain demi kepentingan sendiri sambil menyamar sebagai misi kemanusiaan.

Surat itu menjadi nubuat yang tragis. Peringatan tentang konflik yang akan meletus jika penduduk asli dipaksa menyerahkan tanah airnya terbukti menjadi kenyataan pahit dalam sejarah berikutnya.

Enam Perang yang Dideklarasikan

Rashid Khalidi membingkai sejarah modern Palestina bukan sebagai konflik dua pihak setara, melainkan sebagai perang kolonial yang berlangsung selama satu abad penuh. Ia mengidentifikasi enam titik balik krusial yang ia sebut sebagai enam deklarasi perang terhadap Palestina.

Perang pertama dimulai 1917-1939 dengan Deklarasi Balfour dan Mandat Inggris yang secara sistematis mendukung pemukim Yahudi Eropa sambil menekan perlawanan Palestina. Inggris membentuk Brigada Yahudi dan melatih milisi pemukim yang kemudian menjadi inti tentara Israel.

Revolusi Arab Besar 1936-1939 dihancurkan dengan brutal: 14-17 persen populasi laki-laki Arab Palestina terbunuh, terluka, dipenjara, atau diasingkan. Pembantaian ini melemahkan kepemimpinan Palestina menjelang bencana yang lebih besar.

Nakba dan Mitos Kekalahan

1947-1948 menjadi deklarasi perang kedua yang menghasilkan Nakba, kehancuran massal yang mengusir ratusan ribu Palestina dari tanah air mereka. Khalidi dengan teliti membongkar bagaimana berbagai pihak menyangkal nasionalisme Palestina dan berkontribusi pada tragedi ini.

Inggris dan Amerika, pemimpin Arab seperti Raja Abdullah Yordania, PBB melalui Resolusi 181, bahkan sebagian kepemimpinan Palestina sendiri, semuanya berperan dalam mengorbankan hak rakyat Palestina. Israel melakukan pembersihan etnis yang sistematis selama periode ini.

Yang lebih mengejutkan, Khalidi membongkar mitos bahwa Israel dalam bahaya kepunahan saat Perang Enam Hari 1967. Dokumen intelijen AS menunjukkan bahwa Israel memiliki keunggulan militer luar biasa dan serangan preventif yang mereka lancurkan sebenarnya tidak terpaksa oleh ancaman eksistensial.

Kebangkitan dan Pengkhianatan

Perang 1967 dan Resolusi 242 PBB yang menyusul seharusnya menjadi pukulan telak, justru memicu kebangkitan identitas dan budaya Palestina yang luar biasa. Gerakan nasional Palestina dipimpin Yasser Arafat dan PLO menempatkan kembali Palestina di peta dunia.

Namun deklarasi perang kelima datang dari tempat tak terduga: Perjanjian Oslo 1993. Khalidi menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap momentum Intifada Pertama yang berhasil mengubah persepsi global. Oslo menghentikan kemajuan tersebut dan menjerat Palestina dalam struktur yang tidak setara.

Intifada Kedua 2000 membuang semua keuntungan diplomasi yang diraih. Khalidi menyaksikan langsung invasi Lebanon 1982, menyaksikan bagaimana label terorisme ditempelkan pada siapa saja yang menuntut keadilan, termasuk keluarganya sendiri yang sedang hamil saat itu.

Narasi yang Terus Berlanjut

Khalidi menegaskan bahwa perang seratus tahun ini belum berakhir. Perjuangan kini berpusat pada pertempuran narasi: siapa yang berhak disebut korban, siapa yang memiliki legitimasi historis, dan mengapa kolonialisme di Palestina berhasil bertahan saat imperialisme runtuh di tempat lain.

Buku ini bukan sekadar sejarah akademis. Ia adalah kisah keluarga, kesaksian hidup, dan analisis geopolitik yang mengguncang fondasi pemahaman konvensional tentang konflik ini. Khalidi menunjukkan bahwa perdamaian hanya mungkin jika didasarkan pada kesetaraan dan pengakuan terhadap kedua pihak, bukan dominasi yang menyamar sebagai keamanan.

Karya ini menjadi peta jalan bagi siapa pun yang ingin memahami akar sebenarnya dari konflik yang masih mengguncang dunia hingga hari ini.

Ingin memahami sejarah Palestina dari perspektif yang jarang didengar? Ingin tahu mengapa konflik ini berlangsung begitu lama dan kompleks?

Dapatkan buku The Hundred Years' War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917-2017 karya Rashid Khalidi. Karya yang menggabungkan riset akademis ketat dengan narasi personal yang mengharukan.

Buku ini akan mengubah cara Anda melihat sejarah, geopolitik, dan perjuangan untuk keadilan.