Iran Sudah Hipersonik, Kita Masih Ribut Rakaat Tarawih
Kamis, 5 Maret 2026
Faktakini.info
Iran Sudah Hipersonik, Kita Masih Ribut Rakaat Tarawih
Ada video viral, jamaah ribut di masjid. Gara-gara rakaat salat tarawih. Ya, Allah, kok masih ada. Iran sudah ciptakan rudal hipersonik, kita masih debat soal rakaat. Kita sebenarnya menuju negara apa sih? Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Tahun 2026 ini dunia kayak lagi nonton film sci-fi live action. Iran dengan bangga memamerkan rudal hipersonik Fattah-2 yang diklaim bisa melaju di atas Mach 10 sampai Mach 15, susah dicegat, bikin sistem pertahanan modern mikir dua kali sebelum kedip. Dunia geopolitik panasnya kayak wajan goreng ikan asin. Negara-negara adidaya sibuk hitung jarak tempuh ribuan kilometer dalam hitungan menit.
Nah, di saat rudal bisa ngebut lebih cepat dari gosip tetangga, di Aceh Besar pada Selasa malam, 3 Maret 2026, tepatnya di Masjid Abu Indrapuri, masjid bersejarah abad ke-17 yang dulu jadi simbol perlawanan dan persatuan, kita malah menyaksikan episode yang bikin jidat berkerut sekaligus pengen ngakak miris. Jamaah ribut soal Tarawih 8 atau 20 rakaat.
Ini kejadian nyata. Adu argumen terjadi di dalam masjid. Bahkan ada yang membawa kayu panjang. Bukan buat menopang badan sepuh, bukan buat pagar kebun, tapi buat “menguatkan pendapat” tentang jumlah rakaat sunnah. Sementara Iran sibuk uji coba lintasan hipersonik ribuan kilometer, kita di sini uji coba lintasan emosi dari saf depan ke saf belakang.
Satu kubu bersuara lantang, “20 rakaat! Ini tradisi Aceh! Mazhab Syafi’i! Dari dulu begini!”
Kubu lain tak kalah berapi-api, “8 rakaat! Itu yang lebih dekat ke praktik Nabi! Jangan ditambah-tambah!”
Dalil beradu, nada meninggi, suasana memanas. Masjid yang seharusnya jadi ruang tenang berubah seperti ruang sidang dadakan. Bedanya, ini tanpa palu hakim, tapi ada kayu panjang yang entah kenapa ikut hadir sebagai figuran utama.
Bayangkan kontrasnya. Di luar sana, teknologi hipersonik bergerak lebih dari 10 kali kecepatan suara. Di sini, yang bergerak lebih cepat dari suara cuma nada tinggi waktu debat. Dunia berlomba menciptakan kecerdasan buatan dan sistem pertahanan canggih, kita malah mempertahankan ego masing-masing dengan firmware versi keras kepala 1.0.
Lucunya lagi, dua-duanya punya dasar ilmiah dalam khazanah fikih. Ulama sudah membahasnya berabad-abad. 8 rakaat ada dalilnya. 20 rakaat juga ada riwayat praktik sahabat dan tradisi panjang mazhab. Secara hukum, dua-duanya diakui dalam sejarah pemikiran Islam. Yang tidak pernah dicontohkan adalah adegan dramatis pakai kayu panjang di bulan Ramadan.
Dulu Masjid Abu Indrapuri berdiri sebagai simbol keteguhan iman dan perlawanan terhadap penjajahan. Tahun 2026, ia viral karena jamaahnya bersitegang soal hitungan rakaat. Dari melawan kolonialisme ke melawan sesama jamaah. Evolusi konflik yang… yah… kalau dipikir-pikir, hipersoniknya beda arah.
Kalau ada pengamat geopolitik global membandingkan, mungkin dia akan geleng-geleng kepala, satu negara bangga karena bisa menembus pertahanan musuh dalam hitungan menit, sementara di sudut lain dunia, umat yang sama-sama menghadap kiblat yang sama belum tentu bisa menembus pertahanan ego sendiri dalam satu malam Tarawih.
Ironinya, Ramadan itu bulan menahan diri. Yang ditahan harusnya lapar, haus, dan amarah. Bukan menahan diri buat tidak memukul orang pakai kayu karena beda rakaat.
Ketika headline internasional bicara hipersonik, headline lokal kita bicara hipersensitif. Iran mungkin sudah Mach 15, tapi kita masih Mach emosi. Mudah-mudahan tahun depan upgrade-nya bukan lagi soal 8 atau 20, tapi soal siapa paling duluan minta maaf.
Intinya, dunia sudah melesat ke Mars, kita jangan terjebak di angka. Mau 8, mau 20, yang penting jangan nol, nol akhlak, nol toleransi. Karena di akhirat nanti yang ditanya bukan “kamu tim berapa?”, tapi “kamu ribut atau tidak?”
Ramadan Mubarak. Semoga yang panjang bukan kayunya, tapi sabarnya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
