Herri Pras Wahaboy Google Bukan Lawan Gus Najih

 


Kamis, 19 Maret 2026

Faktakini.info

Manan Abdulloh

Bayangkan seorang Kyai yang mengarang banyak kitab, bahkan mengarang kitab yang menerangkan kesesataan Syi'ah, dianggap kurang literasi tentang Syi'ah, oleh seseorang yang dia sendiri tidak memahami literasi tentang Syi'ah tersebut. Difitnah seolah-olah kyai tersebut sedang mempromosikan sebuah kejahatan, bahkan dibubuhi narasi seolah mengkampanyekan orang-orang supaya menjadi syiah. 

Beliau Gus Najih (sapaan akrab KH. Najih Maimoen) bukan kyai sembarangan. sosok Gus Najih adalah kyai yang diberi julukan "Najihul Falih" oleh gurunya yakni Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawy al-Maliki (saya kira sosok, keilmuan dan ketokohan Sayyid Muhammad sudah tidak perlu dibahas).

Abuya Sayyid Muhammad menyematkan julukan tersebut bukan tanpa sebab, tapi karena kecerdasan dan ketekunan Gus Najih selama mengaji ditempat beliaulah yang mendorong penyematan julukaj tersebut. Disamping mendapat julukan, beliau Gus Najih juga termasuk santri kesayangan Buya Sayyid Muhammad terbukti beliau kerap kali dipercaya mendampingi atau membantu urusan-urusan gurunya tersebut.

Bagi seorang guru, terlebih sekelas Sayyid Muhammad tentu tidak mudah mempercayakan suatu urusan penting kepada sembarang orang, jelas beliau memilih seseorang yang dianggap mampu dalam urusan-urusan tersebut. Santri-santri Buya Sayyid Muhammad yang mampu tidak hanya Gus Najih saja, jika kemudian yang kerap kali diminta mendampingi, diminta membantu urusan-urusan penting adalah Gus Najih, otomatis Gus Najih memiliki tempat tersendiri dalam hati gurunya.

Disamping itu, Gus Najih juga terkenal sosok santri penerus manhaj gurunya, beliau sering menulis atau menerjemah karya-karya gurunya tersebut supaya manhaj gurunya bisa lebih tersebar. Beliau juga diakui oleh Biya Sayyid Muhammad sebagai seseorang yang teguh memegang manhaj Ahlussunah.

____

Hari ini kita dipertontonkan sebuah konten yang menyerang beliau Gus Najih dengan tuduhan, asumsi bahkan fitnah. Sebagai seseorang yang pernah ngaji kepada Gus Najih, saya paham gaya beliau dalam menyampaikan sebuah ilmu, paham bagaimana beliau menganalisa sesuatu yang sedang terjadi.

Yang saya pahami dengan sosok Gus Najih, beliau sosok yang tajam mengkritik siapapun yang seolah dianggap keluar dari batas-batas prinsip islam. Gaya bahasa penyampainnya to the point tanpa basa-basi (tidak seperti kita yang kerap cari aman dalam banyak problematika aktual). Tidak pandang resiko terburuk dari apa yang beliau katakan selama itu masalah prinsip islam.

Video Herri Pras yang menjadikan video Gus Najih sebagai bahan konten, kemudian Herri Pras bergaya seolah-olah menjadi sosok yang paling menjaga ajaran islam, justru yang saya lihat itu sebaliknya. Saya lebih melihat keteguhan memegang ajaran islam dalam sosok Gus Najih, keteguhan Gus Najih dalam memegang prinsip islam itu bukan sebatas konten, atau framing belaka yang ujung-ujungnya berburu dolar dalam banyak platfrom media sosial. Kehidupan beliau sehari-hari sangat mencerminkan keteguha itu. Bahkan beliau terkenal tipe kyai yang keras, lurus juga karena saking teguhnya memegang prinsip islam tersebut.

Sedangkan yang saya lihat dari Herri Pras keteguhan memegang prinsipnya itu abal-abal sekali jika disandingkan dengan keseharian beliau Gus Najih. Belum lagi jika dibandingkan dari sisi keilmuan, ini bukan hanya sulit dibandingkan, tapi memang tidak bisa dibandingkan.

Gus Najih dan Herri Pras memang bukan lawan, tidak hanya bukan lawan yang sebanding.

____

Terkahir saya ingin bicara bahwa:

-Gus Najih sosok yang paham, bahkan memahami ajaran syiah. Pemahaman tentang syiah yang beliau miliki tidak beliau pelajari dari internet atau media sosial. Beliau memahamai sesuai literasi islam, kalaupun belajar dari media mungkin sebatas up date perkembangan informasi terkait syiah, tidak sebagai sumber inti dalam memahami. Tidak seperti Harri Pras yang masih -sangat- diragukan tentang pemahamannya mengunakan literasi islam dalam memahami syiah. 

-Gus Najih tidak sedang mengkampanyekan ajaran Syiah.

-Gus Najih tidak sedang mengajak supaya kita mengikuti ajaran syi'ah.

Kemudian:

"Bagi saya dan banyak orang muslim lainnya tidak sampai hati membela kelompok non muslim (kafir) yang membabi buta menyerang saudara muslim kita? , tidak cukupkah seruan persatuan umat islam untuk kita pedomanii sedangkan yang menyerkan adalah para ulama-ulama dengan kompetensi tinggi?"

Siapa yang mengajari supaya kita terus-terusan terpecah belah?

Bukankah entah siapa saja yang mengajari perpecahan tersebut, tetap umat islam yang dirugikan?

Apakah kalian berfikiran bahwa kalian saja yang islam, sedang yang lain bukan islam, kemudian kalian bisa menang melawan non islam hanya dengan sekelompokmu itu saja?.

Islam itu menyatukan, bukan memecah belah, debat akidah itu tentang benar-salah, bukan agenda propaganda.

Masih banyak yang perlu dibahas, Kita lanjutkan besok lagi...

Semoga bermanfaat...