Dulu Ulama Indonesia Dipuji Dunia, kini Imad dijuluki "Jahil Murokkab": Saat Nama Baik Indonesia Dirusak oleh Orang Gila Nasab

 


Kamis, 19 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Dulu, jika dunia Islam menyebut Indonesia, yang terbayang adalah negeri para ulama besar. Negeri yang melahirkan raksasa ilmu seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Yasin Al-Fadani — ulama yang bukan hanya dihormati, tetapi dijadikan rujukan oleh para masyayikh di Mekkah dan Madinah.

Indonesia dikenal karena sanadnya.

Karena adabnya.

Karena ilmunya.

Namun hari ini, dunia justru menyaksikan ironi pahit: nama Indonesia ikut terseret dalam polemik akibat satu orang gila nasab — Imadudin bin Sarmana bin Arsa.

Alih-alih membawa tradisi ilmiah ulama Nusantara, yang muncul justru kegaduhan tanpa otoritas keilmuan. Pendapat pribadi dipaksakan menjadi kebenaran, sementara kaidah ilmu nasab yang telah dijaga ratusan tahun dianggap seolah tidak ada.

Lebih memukul lagi, para ahli nasab dan lembaga Naqobah Asyraf dari berbagai negara justru kompak tidak membenarkan pandangannya. Tidak satu pun otoritas nasab dunia berdiri di belakangnya.

Dari sinilah dunia mulai bertanya:

bagaimana mungkin negeri penghasil ulama kelas dunia kini diwakili oleh polemik yang dinilai para ahli sebagai contoh “jahil murokkab” — kebodohan tingkat tinggi: tidak tahu, dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan jauh hari:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.”

(HR. Al-Bukhari)

Hadits ini terasa hidup ketika ilmu nasab — disiplin yang memiliki sanad, metodologi, dan otoritas khusus — justru dibahas oleh orang yang tidak pernah dikenal sebagai ahli nasab, tidak berguru kepada pakarnya, namun berani menabrak konsensus ulama dunia hanya bermodal kliping internet dan tulisan blog.

Emosi dan frustasi karena upayanya untuk mengejar pengakuan sebagai cucu Walisongo dan Nabi Muhammad SAW tidak berhasil, Imad berubah menjadi sosok monster ganas yang menghantam habis-habisan Rabithah Alawiyah dan seluruh Habaib tanpa kecuali, karena ia anggap sebagai penyebab utama nasab Imad ditolak oleh Naqobah Asyraf sedunia.

Fakta lapangan berbicara keras.

Dalam kunjungan Gus Rumail Abbas ke Mekkah pada Juli 2024, Syarif Ibrahim bin Manshur Al-Amir Al-Hasyimi dari Niqobat Al-Asyraf Hijaz menegaskan nasab Habaib tersambung sah kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan metode karangan Imad yang ia jadikan dasar penolakan nasab Habaib disebut secara tegas sebagai bentuk jahil murokkab (bodoh kuadrat) karena bertentangan dengan pondasi ilmu nasab.

Tamparannya jelas:

ulama berbicara dengan sanad dan ilmu, sementara polemik dibangun dengan opini.

Ironi belum berhenti. Imad sosok yang lantang menolak nasab orang lain justru dikenal mengklaim dirinya sebagai keturunan Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Sunan Gunung Jati — yang secara historis berkaitan dengan dzurriyah Rasulullah ﷺ. Namun klaim tersebut tidak diakui oleh Kesultanan Banten maupun Rabithah Alawiyah. Dan setelah diteliti, Sarmana bin Arsa, ayah kandungnya Imad terbukti tidak memiliki garis keturunan ke Sultan Banten, Walisongo apalagi Rasulullah SAW.

Di sinilah publik mulai melihat pola:

ketika klaim pribadi Imad ditolak, yang ia serang justru sistem ilmu dan para pewarisnya.

Ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat.

Ini telah berubah menjadi kegaduhan yang menyeret nama Indonesia di mata dunia Islam.

Dulu ulama Nusantara datang ke Haramain membawa kitab dan adab — lalu pulang membawa kehormatan bagi bangsanya.

Hari ini, dunia menyaksikan seseorang membawa kontroversi — lalu meninggalkan pertanyaan besar tentang kualitas literasi keilmuan kita.

Sejarah selalu kejam dalam menilai.

Ia tidak mengingat siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang benar-benar memiliki ilmu.

Dan pada akhirnya, waktu akan memisahkan dua golongan:

Mereka yang membangun kemuliaan dengan sanad ilmu…

dan mereka yang tenggelam oleh suara gaduhnya sendiri.