Allah Allah... Sia-sia Serangan Sekte Imad: Acara Habaib Malah Makin Meledak Dimana-mana

 




Senin, 16 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad ﷺ pernah menghadapi ejekan dan tantangan dari kaum kafir Quraisy. Mereka meragukan kerasulan beliau dan berkata sinis: “Jika engkau benar seorang Nabi, maka belahlah bulan sebagai mukjizat.”

Menanggapi tantangan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ tidak mengandalkan kekuatan diri, melainkan berserah sepenuhnya kepada Allah SWT. Dengan izin-Nya terjadilah peristiwa besar yang kemudian dikenal sebagai peristiwa terbelahnya bulan (shaqq al-qamar).

Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu akhirnya mengakui kebenaran risalah beliau. Namun sebagian lainnya tetap menolak. Mereka bahkan menuduh bahwa kejadian tersebut hanyalah sihir.

Peristiwa itu menunjukkan satu pelajaran penting dalam sejarah manusia:

bukti yang jelas tidak selalu cukup bagi orang yang hatinya telah dipenuhi kesombongan dan kebencian.

Fenomena Penolakan di Masa Kini

Sebagian kalangan melihat pola serupa muncul dalam polemik nasab Habaib di masa sekarang. Kelompok Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, Abbas Tompel PWI-LS cs menuduh bahwa nasab para Habaib palsu atau terputus.

Padahal, secara historis dan genealogis, nasab Ba‘alawi telah dicatat dan diakui oleh banyak lembaga nasab serta para ahli silsilah Ahlul Bait di berbagai negara.

Namun penolakan tetap terjadi. Bahkan Imad, Abbas Tompel, Oma Irama cs itu justru mengklaim bahwa mereka sendiri adalah dzurriyah Rasulullah ﷺ yang paling sahih.

Dari panggung ke panggung Abbas Tompel dkk memproklamirkan diri sebagai Syarif Hijaz cucu Sayyidina Hussein dan Rasul. Sebagian lainnya seperti Dadang Zulfikar mengklaim dari Sayyidina Hasan. Suka-suka golongan mereka untuk memilih mengaku dari jalur mana. 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan sering kali bukan sekadar soal bukti atau data. Dalam kasus serangan terhadap nasab Habaib di Indonesia, yang menjadi faktor utama justru adalah sikap psikologis dan emosional terhadap sebuah kebenaran.

Ironi Serangan yang Berbalik Menjadi Simpati

Menariknya, gelombang kritik dan serangan terhadap para Habaib justru memunculkan fenomena sosial yang unik.

Padahal serangan sudah habis-habisan dilakukan oleh kelompok Imad beserta seluruh jaringan team cyber dan buzzernya secara all out selama empat tahun ini.

Namun alih-alih melemahkan posisi Habaib, serangan tersebut sering kali menghasilkan efek sebaliknya:

Rasa penasaran publik meningkat

Diskusi tentang sejarah Ahlul Bait semakin luas

Masyarakat dengan mudah bisa mengecek sendiri ke AI, bertanya keturunan Rasul SAW yang shohih diakui ahli nasab dan naqobah asyraf resmi dunia saat ini siapa saja, dan tentu saja nasab Ba'alawi disebutkan dalam seluruh jawaban AI type apapun: Chat GPT, Gemini dll.

Majelis shalawat, haul, dan maulid bersama para Habaib justru semakin ramai

Di banyak kota, majelis bersama para Habaib semakin dipadati jamaah. Shalawat semakin menggema, dan kecintaan umat kepada keluarga Nabi ﷺ semakin terlihat.

Contohnya sepanjang Ramadhan 1447 H ini. Pada malam 23 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur, yang dipimpin oleh Habib Abdulqadir bin Muhammad Alhaddad, menghadirkan lautan manusia. Ratusan ribu jamaah dilaporkan memadati kawasan sekitar masjid hingga meluber ke jalan-jalan dan jembatan penyeberangan orang (JPO) di sekitar PGC pada Kamis malam, 12 Maret 2026.

Fenomena membludaknya jamaah mengikuti acara bersama Habaib ini tidak hanya terjadi di Masjid Alhawi, tetapi juga di berbagai majelis dan masjid lain di sejumlah daerah. Kegiatan khataman Al-Qur’an dalam shalat tarawih yang dipimpin para habaib menjadi magnet spiritual bagi umat yang ingin menghidupkan malam-malam ganjil Ramadhan.

Secara sosiologis, ini bukan fenomena yang aneh. Dalam banyak kasus sejarah, serangan yang terus-menerus tanpa hasil justru menimbulkan efek simpati kepada pihak yang diserang.

“Promosi Gratis” yang Tak Disadari

Ironinya, setiap konten Sekte Imad dan buzzernya di medsos yang dimaksudkan untuk menjatuhkan justru sering berubah menjadi promosi tidak langsung.

Serangan yang bertubi-tubi membuat nama para Habaib semakin sering disebut, semakin dibicarakan, dan semakin dikenal oleh publik luas.

Upaya untuk memadamkan cahaya justru sering berakhir dengan memperbesar sorotan.

Inilah salah satu hukum sosial yang berulang dalam sejarah:

Tradisi yang telah hidup ratusan tahun dalam hati masyarakat tidak mudah runtuh oleh perdebatan di media sosial.

Kekuatan Ketenangan

Yang menarik, banyak majelis Habaib memilih merespons dengan cara yang relatif tenang: tetap berdakwah, tetap menggelar majelis, tetap mengajak kepada shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Sementara itu, kelonpok Imad yang menyerang sering kali semakin emosional dan semakin keras retorikanya. Bahkan mulai mengancam untuk mengusir dan membunuh para Habaib, wujud frustasi karena gagal total untuk merungkadkan nasab Habaib.

Dalam jangka panjang, publik biasanya menilai bukan hanya dari argumen, tetapi juga dari sikap dan akhlak.

Dan sering kali kontras itu berbicara lebih keras daripada debat.

Penutup

Sejarah selalu menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu langsung diterima oleh semua orang. Bahkan mukjizat sekalipun pernah ditolak oleh sebagian manusia.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa ketenangan, konsistensi, dan waktu sering menjadi penentu akhir.

Apa yang hari ini diperdebatkan dengan emosi, suatu saat akan dinilai kembali dengan kepala yang lebih dingin.

Dan sejarah biasanya lebih sabar daripada emosi sesaat.