8 Juta Orang Ikut Demo No Kings untuk Protes Trump
Selasa, 31 Maret 2026
Faktakini.info, Jakarta - 8 juta orang lebih turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat dan sejumlah kota besar Eropa hingga Australia pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga “No Kings” (Tidak ada raja), untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Pihak panitia seperti dilansir KVAL, memprediksi terdapat delapan juta orang yang berpartisipasi dalam unjuk rasa tersebut.
Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, kekerasan berlebihan aparat imigrasi (ICE) yang menewaskan warga sipil dan imigran serta antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran.
Menurut Washington Post, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian Minnesota untuk aksi utama protes "No Kings" yang disebut oleh pendiri ormas Indivisible Ezra Levin sebagai "protes terbesar dalam sejarah Minnesota".
Sementara di Washington DC, belasan ibu dari Palestina melakukan unjuk rasa di depan tugu Lincoln Memorial dengan mengibarkan bendera Palestina raksasa, menurut The Guardian.
"Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan," kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada (43), sebagaimana dilaporkan The Guardian.
"Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel," ucap Barmada.
Sementara itu, CNN melaporkan adanya unjuk rasa tandingan di sejumlah titik, seperti di West Palm Beach, Florida, di mana sekitar 50 pendukung Trump dengan topi "Proud Boys" berhadapan dengan pengunjuk rasa "No Kings".
Koalisi "No Kings" menekankan bahwa aksi unjuk rasa mereka adalah tanpa kekerasan, dengan semua bentuk senjata dilarang dan pemimpin aksi diberi latihan deeskalasi konflik.
Adapun pada unjuk rasa "No Kings" pertama pada Juni 2025, seorang pengunjuk rasa terbunuh dan seorang lainnya terluka oleh seorang relawan 50501 yang menembakkan senjatanya usai melihat seseorang membawa senjata api dalam unjuk rasa di Salt Lake City, Utah.
Sumber: tempo.co.id

