Imad-Bastom PWI-LS Ngamukan Terus Efek Panggung Makin Sepi, Saatnya Introspeksi Diri

 



Senin, 9 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Dalam lanskap dakwah Islam Indonesia, konflik sering kali tampil seolah perbedaan manhaj atau dalil. Namun jika ditelisik lebih dalam, tidak semua pertentangan lahir dari diskursus ilmiah yang jujur. Sebagian justru berakar pada problem psikologis, sosial, dan kegagalan membangun otoritas keilmuan di hadapan umat.

Fenomena ini tampak jelas dalam sikap keras Imaduddin bin Sarmana bin Arsa beserta lingkar PWI-LS terhadap para habaib.

Bukan Soal Dalil, Tapi Soal Daya Tarik Dakwah

Pertanyaan mendasarnya sederhana:

mengapa ceramah dan majelis mereka sepi?

Alih-alih melakukan evaluasi diri—memperdalam ilmu, memperbaiki metode dakwah, dan menata adab—yang muncul justru pelampiasan berupa serangan frontal kepada figur yang dicintai umat, yakni para habaib.

Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, penerimaan umat tidak lahir dari sensasi, melainkan dari ilmu yang dalam, sanad yang jelas, adab yang terjaga, dan keberkahan dakwah. Ketika empat hal ini absen, maka wajar jika panggung dakwah tak kunjung terisi jamaah.

Kedangkalan Ilmu, Terutama dalam Nasab

Ironisnya, topik yang paling sering diangkat oleh Imad cs justru bidang yang menuntut keahlian tinggi dan disiplin ketat: ilmu nasab.

Ilmu nasab bukan opini bebas, bukan cocokologi, dan bukan klaim berbasis emosi. Ia memiliki kaidah, rujukan klasik, otoritas naqobah, serta konsensus ulama lintas zaman. Ketika orang yang belum matang ilmunya nekat berbicara nasab, hasilnya bukan pencerahan, melainkan kekacauan.

Di titik inilah problem utama terlihat jelas:

bukan keberanian intelektual, tapi ketidaksiapan ilmiah.

Kalah Panggung, Lalu Menyerang yang Laku

Fakta sosial sulit dibantah:

majelis para habaib dipenuhi jamaah lintas usia dan latar belakang. Dakwah mereka hidup, berakar, dan mengalir dari generasi ke generasi.

Sebaliknya, mereka yang paling vokal menyerang habaib justru minim undangan, tidak menjadi rujukan umat, dan gagal membangun basis jamaah yang kokoh.

Inilah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “dendam kalah panggung”—ketika kegagalan menarik umat diubah menjadi narasi perlawanan terhadap figur yang dicintai umat.

Parahnya lagi, sepinya panggung berimbas ke sosio-psikologis Imad dan Bastom yang akhirnya makin sering mengamuk, mengumpat dan teriak-teriak tidak jelas, penuh kemarahan di panggung-panggung, ciri batin keduanya sudah rusak karena ternyata loyalis mereka hanya banyak di medsos, namun sunyi di kehidupan nyata.

Tidak Mendapat Tempat di NU, Lalu Menyalahkan NU

Nahdlatul Ulama memiliki mekanisme keulamaan yang ketat:

ilmu, sanad, adab, khidmah, dan penerimaan jamaah.

Ketika seseorang tidak mendapatkan tempat secara struktural maupun kultural di NU, seharusnya yang dilakukan adalah muhasabah, bukan membangun narasi seolah NU dan habaib telah menyimpang, sementara dirinya paling lurus.

Menyerang dari luar sering kali menjadi kompensasi atas kegagalan diterima di dalam.

PWI-LS: Jalan Pintas Otoritas

Alih-alih bertumbuh secara alamiah dalam arus besar keulamaan, PWI-LS tampak lebih berfungsi sebagai wadah pelarian bagi mereka yang ingin pengakuan instan tanpa proses panjang.

Ini pola lama dalam sejarah:

ketika arus utama menuntut standar tinggi, sebagian memilih jalur pinggiran dengan retorika “kami dizalimi” dan “kami paling benar”.

Penutup: Introspeksi Lebih Mulia daripada Dendam

Menyerang habaib tidak akan otomatis menaikkan derajat keilmuan.

Merendahkan nasab Rasulullah ﷺ tidak akan membuat panggung dakwah menjadi ramai.

Dan popularitas yang dibangun dari kebencian hanya akan berumur pendek.

Jika benar ingin memperbaiki umat, maka jalannya jelas:

belajar lebih dalam, merendahkan ego, menjaga adab, dan menghormati tradisi keilmuan Islam.

Umat hari ini tidak sebodoh yang dikira.

Mereka mampu membedakan kritik ilmiah dari teriakan orang yang kalah panggung.