Berbukalah dengan yang Manis’ Bukan Hadis: Meluruskan Kekeliruan Populer antara Sunnah Nabi ﷺ dan Jingle Iklan Ramadan

 


Jum'at, 27 Februari 2026

Faktakini.info

*‘Berbukalah dengan yang Manis’ Bukan Hadis: Meluruskan Kekeliruan Populer antara Sunnah Nabi ﷺ dan Jingle Iklan Ramadan*

Mari kita tegaskan secara ilmiah: kalimat “berbukalah dengan yang manis” bukan hadis Nabi ﷺ. Redaksi tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis primer yang mu‘tabar seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, maupun Sunan Ibnu Majah.

Yang sahih adalah riwayat bahwa Nabi ﷺ berbuka dengan kurma, bukan dengan konsep umum “yang manis”.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa butir kurma basah sebelum shalat. Jika tidak ada kurma basah, maka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada juga, maka beliau meneguk beberapa teguk air.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor 2356, oleh at-Tirmidzi nomor 696, dan Ahmad dalam Musnad-nya (3/164). At-Tirmidzi berkata: “Hadis hasan gharib.” Hadis ini dinilai sahih oleh al-Daraquthni  

Perhatikan redaksinya sangat spesifik: ruthab, tamr, lalu air. Tidak ada redaksi “halwah” (sesuatu yang manis) secara umum. Dalam metodologi ilmu hadis, perubahan redaksi berarti perubahan makna. Menggeneralisasi “kurma” menjadi “yang manis” adalah interpretasi, bukan teks.

Secara fisiologi, kurma memang efektif menaikkan kadar glukosa darah setelah puasa karena kandungan glukosa dan fruktosanya yang cepat diserap. Kajian nutrisi modern mendukung hikmah praktik tersebut. Namun manfaat ilmiah tidak otomatis mengubah sebuah kebiasaan menjadi dalil tekstual dengan redaksi berbeda.

Di sinilah literasi hadis menjadi penting. Mengaitkan suatu kalimat kepada Nabi ﷺ tanpa sumber sahih termasuk perkara serius, sebagaimana sabda beliau dalam hadis mutawatir maknawi:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari nomor 1291 dan Muslim nomor 4, dari banyak jalur sahabat.

Kesimpulannya jelas. Berbuka dengan makanan manis boleh. Secara medis masuk akal. Tetapi mengklaim bahwa kalimat “berbukalah dengan yang manis” adalah hadis Nabi ﷺ tidak memiliki dasar riwayat yang sahih.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menyandarkan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ tanpa ilmu. Di era media dan iklan yang repetitif, ketelitian ilmiah adalah bagian dari amanah keagamaan.

Ditulis oleh Ustadz Fahri Nusantara (UFN)