PWI-LS: MENYALA DI HONGKONG, GELAP DI OTAK — FITNAH KEJI TERHADAP HABAIB HARUS DIHENTIKAN!

 



Ahad, 18 Januari 2026

Faktakini.info, Jakarta — Kelompok PWI-LS (sering disebut sekte Imad) kembali mempertontonkan watak aslinya: miskin data, dangkal logika, dan gemar memproduksi fitnah rasis terhadap Habaib dan Rabithah Alawiyah. Klaim bombastis mereka soal “menyala di Hongkong” justru menyingkap satu fakta telanjang—eksistensi palsu yang dibangun untuk menutupi kehampaan intelektual.

Membuka cabang di Hongkong bukan prestasi, apalagi legitimasi ilmiah. Ormas apa pun bisa berdiri di sana selama ada komunitas TKI/PMI. Mengangkat fakta receh itu sebagai pembenaran untuk menyerang nasab dan sejarah Habaib adalah bentuk manipulasi murahan yang menghina akal sehat publik.

Bandingkan dengan Habaib yang telah menyebar ke Afrika, Asia, dan Eropa sejak ratusan tahun lalu. Mereka tidak sekadar “hadir”, tetapi membangun peradaban: dakwah, pendidikan, ulama, dan institusi Islam lintas benua. Jika PWI-LS baru bangga karena “eksis di Hongkong”, maka itu ibarat membanggakan lilin di siang bolong sambil menutup mata dari matahari sejarah.

FITNAH TERBUSUK: “KEKAYAAN DIBAWA KE YAMAN”

Tuduhan bahwa Habaib mengeruk kekayaan Indonesia untuk dikirim ke Yaman adalah FITNAH PALING BUSUK yang pernah dilontarkan. Tidak ada data. Tidak ada bukti. Tidak ada logika. Yang ada hanya kebencian mentah yang dibungkus seolah-olah analisis.

Fakta berbicara sebaliknya. Habaib di Indonesia menginvestasikan hidupnya di negeri ini: ribuan pesantren, masjid, sekolah, universitas, dan majelis taklim berdiri dari keringat dan wakaf mereka. Aset itu untuk umat Islam Indonesia, bukan untuk negara lain.

Logika sederhana saja sudah menghancurkan fitnah ini: jika benar kekayaan Indonesia “disedot” ke Yaman, mengapa Yaman tetap miskin dan dilanda konflik? Justru yang sering terjadi adalah bantuan kemanusiaan dari Indonesia ke Yaman atas dasar persaudaraan Islam. Itu bukan setoran upeti, tapi empati kemanusiaan. Membalik fakta ini adalah kebohongan publik tingkat akut.

BUTA SEJARAH, TAPI BERANI BERTERIAK

Pernyataan PWI-LS yang menyebut Rabithah Alawiyah dan Habaib tidak menguntungkan Nusantara adalah bukti kebutaan sejarah yang memalukan. Jamiat Kheir—induk Rabithah—tercatat sebagai pilar kebangkitan nasional. Dari sanalah dukungan mengalir ke Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto, dan dari rahim pergerakan itu lahir tokoh-tokoh besar seperti KH Ahmad Dahlan.

Dana perjuangan kemerdekaan RI tidak sedikit berasal dari kantong saudagar Habaib. Mereka “mengeruk” penjajah untuk membiayai perlawanan, bukan mengeruk bangsa sendiri. Fakta ini tercatat dalam sejarah, bukan karangan status media sosial.

NARASI BUSUK WARISAN PENJAJAH

Yang paling berbahaya, pola serangan PWI-LS identik dengan propaganda kolonial Belanda: narasi rasis ekonomi untuk mengadu domba Pribumi dengan Arab-Hadrami. Dulu dipakai penjajah untuk melemahkan umat Islam. Hari ini, didaur ulang oleh kelompok yang mengaku paling “ilmiah”, padahal sedang memuntahkan kebencian lama dengan kemasan baru.

Silakan bangga dengan ormas masing-masing. Tapi jangan nodai NKRI dengan fitnah dan rasisme. Habaib telah menumpahkan darah, harta, dan jiwa untuk negeri ini. Sementara PWI-LS, sejauh ini, hanya menumpahkan ludah fitnah di media sosial.

Jika sejarah adalah cahaya, maka fitnah adalah kegelapan. Dan PWI-LS memilih berdiri di sisi gelap itu.