Habib Hasyim bin Musayyakh bin Yahya (Habib Tunggung Parangan/Si Janggut Merah): Alawiyin Yaman dan Fondasi Islam di Kutai Kartanegara
Senin, 26 Januari 2026
Faktakini.info
"Habib Hasyim bin Musayyakh bin Yahya (Habib Tunggung Parangan/Si Janggut Merah): Alawiyin Yaman dan Fondasi Islam di Kutai Kartanegara"
Ada satu kegelisahan yang selalu muncul setiap kali kisah para Habaib dibicarakan dalam konteks sejarah Nusantara. Bukan karena kisahnya kurang kuat, tetapi karena sebagian orang enggan menerima kenyataan bahwa Islam di negeri ini—termasuk di pusat-pusat kekuasaan—tidak bisa dilepaskan dari peran para dzurriyah Rasulullah ﷺ, baik dari Habaib Baalawi Yaman maupun dari keluarga Walisongo.
Tulisan ini barangkali akan dianggap “mengada-ada”, “legenda”, bahkan “khurafat” oleh mereka yang sejak awal sudah memutuskan untuk menutup mata terhadap tradisi sejarah lokal. Saya sadar itu. Namun sejarah bukan hanya milik arsip kolonial dan catatan modern; sejarah juga hidup dalam ingatan kolektif, silsilah raja, dan naskah-naskah istana yang diwariskan lintas generasi.
Salah satu tokoh yang namanya terpatri kuat dalam tradisi tersebut adalah Habib Hasyim bin Musayyakh bin Yahya, seorang Alawiy dari Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan—wilayah yang sejak berabad-abad dikenal sebagai rahim para da‘i, fuqaha, dan wali.
– Dari Tarim ke Nusantara: Jejak Hijrah dan Dakwah
Habib Hasyim dikenal sebagai sosok berpendirian tegas dalam menegakkan syariat Islam. Ia meninggalkan Hadramaut dan melakukan hijrah dakwah ke berbagai wilayah Nusantara: Pulau Jawa, Sumatra, hingga Sulawesi. Di Sulawesi, ia bertemu dengan seorang ulama besar, Khatib Tunggal Abdul Makmur, yang dikenal dengan gelar Datuk ri Bandang—figur sentral dalam Islamisasi Sulawesi.
Dari sana, Habib Hasyim melanjutkan perjalanan ke Negeri Matan (Ketapang), Kalimantan Barat, hingga akhirnya menetap dan berperan besar dalam Islamisasi Kutai. Di wilayah inilah ia dikenal dengan gelar Tuan Tunggang Parangan, atau Si Janggut Merah—sebutan yang bukan sekadar julukan, tetapi simbol karisma dan keistimewaan yang melekat pada dirinya.
– Islam di Kutai: Antara Upaya dan Penentuan Ilahi
Perlu dicatat, sebelum kedatangan Habib Hasyim, Islam sebenarnya telah masuk ke wilayah pedalaman Kutai melalui para saudagar Arab dan ulama, di antaranya Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Marzak, seorang ulama Minangkabau. Namun pada masa pemerintahan Raja Mahkota (dikenal sebagai Raja Berjanggut Kawat), upaya tersebut belum berhasil mengislamkan sang raja.
Perubahan besar terjadi ketika Habib Hasyim—bersama Datuk ri Bandang—hadir di Kutai. Dalam berbagai naskah silsilah kerajaan Kutai Kartanegara, diceritakan adanya dialog spiritual dan intelektual antara Raja Mahkota dengan Tuan Tunggang Parangan. Dialog ini bukan sekadar perdebatan agama, tetapi pertemuan antara kekuasaan dunia dan otoritas spiritual.
Mengacu pada Surat Silsilah Raja-Raja Kutai, yang disusun oleh Tuan Khatib Muhammad Tahir pada tahun 1265 H, disebutkan bahwa Raja Mahkota memperoleh hidayah Allah Ta‘ala melalui perantaraan dua wali Allah: Tuan Tunggang Parangan dan Tuan di Bandang.
Karamah, Kekuasaan, dan Ketundukan
Tradisi Kutai meriwayatkan kisah karamah yang menyertai peristiwa ini—kisah yang mungkin akan ditertawakan oleh kaum rasionalis modern, tetapi justru menjadi bahasa dakwah yang dipahami masyarakat kala itu.
Raja Mahkota menantang Habib Hasyim untuk menunjukkan kehebatan. Sang Raja menghilang (ghaib), namun Habib Hasyim dengan tenang melangkah dan menyatakan keberadaan Raja di belakangnya—dan terbukti benar.
Dalam tantangan berikutnya, Raja Mahkota menampakkan api besar hasil kesaktiannya. Habib Hasyim tidak membalas dengan kesaktian duniawi, melainkan dengan shalat dua rakaat, memohon pertolongan Allah. Hujan turun deras, api padam, dan ketundukan pun lahir—bukan karena kalah ilmu sihir, tetapi karena kemenangan tauhid atas kesombongan kekuasaan.
Akhirnya, Raja Mahkota menepati janjinya. Ia dibimbing langsung oleh Habib Hasyim mengucapkan dua kalimat syahadat, memahami Rukun Islam dan Rukun Iman, dan masuk Islam dengan penuh kesadaran.
– Islam Menjadi Identitas Kerajaan
Setelah keislaman Raja Mahkota, Islam tidak berhenti pada individu, tetapi menjadi identitas politik dan spiritual kerajaan Kutai Kartanegara. Cucu Raja Mahkota, Aji Ki Jipati Jayaperana (Pangeran Sinum Panji Mendapa), kemudian melanjutkan penyebaran Islam dan menaklukkan Kerajaan Hindu Martapura.
Ini bukan cerita pinggiran. Ini adalah fondasi sejarah.
– Wafatnya Seorang Wali
Habib Hasyim bin Musayyakh bin Yahya wafat sekitar tahun 1157 H / 1736 M, setelah mengabdikan hidupnya untuk dakwah Islam di tanah Kutai. Ia dimakamkan di Tepian Batu, Jahitan Layar (Kutai Lama), di kompleks pemakaman Raja-Raja Kutai Kartanegara—sebuah simbol bahwa dakwah dan kekuasaan pernah bersatu dalam ridha Allah.
– Penutup: Antara Khurafat dan Kesombongan Zaman
Mereka yang menolak kisah-kisah seperti ini sering lupa satu hal:
tidak semua yang tidak tercatat dalam jurnal modern otomatis palsu.
Menafikan peran Habaib dalam sejarah Nusantara bukan sikap kritis—melainkan sikap ideologis. Dan lebih ironis lagi, menuduh khurafat terhadap tradisi yang justru menjadi akar berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di negeri ini.
Silakan mencemooh. Sejarah tetap berjalan.
Dan nama-nama para wali—termasuk Habib Hasyim bin Musayyakh bin Yahya—akan tetap hidup dalam ingatan umat, jauh melampaui riuh polemik pembatal nasab yang datang dan pergi.
__________________
Tamzilul Furqon S.Pd.


