Cerita ini yang dipelintir Sekte Imad jadi "Tuhannya Ba'alawi adalah Habib Abdullah Alhaddad"
Sabtu, 31 Januari 2026
Faktakini.info
Cerita ini yang dipelintir Sekte Imad (Orang-orang gila nasab dan pembenci Habaib) jadi "Tuhannya Ba'alawi adalah Habib Abdullah Alhaddad"
بلغنا أن الحبيب عبد الله باعلوي مر برجل ينشد أبياتا تتعلق بالبعث والحساب، فتواجد،
Telah sampai kabar kepada kami bahwa Al-Habib Abdullah Ba'alawi pernah melewati seseorang yang sedang melantunkan syair-syair tentang Hari Kebangkitan dan Hari Perhitungan (Hisab), maka beliau pun tawajud (mengalami gejolak perasaan yang sangat kuat di dalam hati)
ولما رأى الحبيب عبد الله مقبلا سكت عن الغناء،
Ketika orang tersebut melihat Habib Abdullah datang, ia berhenti bernyanyi.
فقال للرجل: أعد الأبيات!
Maka beliau (Habib Abdullah) berkata kepada orang itu: "Ulangi syair-syair tersebut!"
فقال الرجل: بشرط أن تضمن لي بالجنة،
Orang itu menjawab: "Dengan syarat engkau menjaminkan surga untukku."
فقال: ليس ذلك إلي، ولكن اطلب ما شئت من المال!
Beliau menjawab: "Hal itu bukan wewenangku, akan tetapi mintalah harta semaumu!"
فقال الرجل: ما أريد إلا الجنة،
Orang itu berkata: "Aku tidak menginginkan apapun kecuali surga."
فقال: إن حصل لنا شيء ما كرهنا،
Beliau berkata: "Jika kami mendapatkan sesuatu (hak syafaat/kebaikan dari Allah), kami tidak akan keberatan".
فأعادها ودعا له بالجنة، فحسنت حالة الرجل وانتقل إلى رحمة الله
Maka orang itu mengulangi syairnya dan beliau (Habib) mendoakannya agar masuk surga, lalu membaiklah keadaan orang tersebut dan (berapa waktu kemudian) ia pun meninggal dunia.
وشيعه الحبيب عبد الله باعلوي، وحضر دفنه وجلس عند قبره ساعة،
Habib Abdullah Ba'alawi mengiringi jenazahnya, menghadiri pemakamannya, dan duduk di sisi kuburnya sesaat.
فتغير وجهه ثم ضحك واستبشر،
Tiba-tiba wajah beliau berubah, kemudian beliau tertawa dan terlihat gembira.
فسئل عن ذلك، فقال: إن الرجل لما سأله الملكان وقالا من ربك؟
Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau menjawab: "Sesungguhnya orang ini ketika ditanya oleh dua malaikat: 'Siapa Tuhanmu?'
قال: حبيبي عبد الله باعلوي، ومن نبيك؟ قال: حبيبي عبد الله باعلوي،
Ia menjawab: 'Kekasihku Abdullah Ba'alawi.' Dan (ketika ditanya) 'Siapa Nabimu?' Ia menjawab: 'Kekasihku Abdullah Ba'alawi.'
فخفت عليه أن يضرباه، لهذا تغير حالي،
Maka aku khawatir kedua malaikat itu akan memukulnya, karena itulah wajahku berubah (menjadi cemas).
فنزل ملك من السماء وقال للملكين: إذا قال لكما حبيبي عبد الله باعلوي فقولا له مرحبا بك وبحبيبك عبد الله باعلوي!
Lalu turunlah malaikat dari langit dan berkata kepada kedua malaikat itu: 'Jika ia berkata kepada kalian "Kekasihku Abdullah Ba'alawi", maka katakanlah padanya: Selamat datang bagimu dan bagi kekasihmu Abdullah Ba'alawi!'
لهذا فرحت وضحكت. اهـ
Karena itulah aku merasa senang dan tertawa." Selesai.
-----------------------
PENJELASAN:
قلت: هذه الكرامة هي التي يدندن عليها أقوام في عصرنا، ومن خلال عرضها على الناس وكتابتها في مؤلفاتهم يؤكدون فساد عقائد آل البيت بحضرموت،
حيث يتوهمون أن الشيخ عبد الله باعلوي يجعل نفسه وسيلة قبول عند الحساب في البرزخ،
وهذا لم يقع لنبي ولا لملك مقرب كما يقول البعض،
Saya berkata: Karamah inilah yang sering didengung-dengungkan oleh sekelompok orang di zaman kita ini, dan melalui pemaparannya kepada masyarakat serta penulisannya dalam buku-buku mereka, mereka menegaskan (menuduh) rusaknya akidah Ahlul Bait di Hadramaut.
Di mana mereka beranggapan keliru bahwa Syekh Abdullah Ba’alawi menjadikan dirinya sebagai perantara (wasilah) diterimanya amal saat hisab (perhitungan) di alam Barzah.
Padahal hal ini tidak pernah terjadi pada seorang Nabi pun, tidak pula pada malaikat, sebagaimana perkataan sebagian orang.
ونحن عندما نتناول هذه الأمور نرى أن الحكاية ليست مقياس القبول أو الرد لحال الرجال كما ذكرناه سلفاً،
ولكن إذا أمعنا النظر في هذه الحكاية من باب افتراض صحتها وسلامة نقل الرواة لها فإننا يقيناً لا نرى فيها ما يخالف الشرع أصلاً،
وهذا نؤكده بعرض الحكايات على العقل والتعليل المنطقي بعد معرفتنا صحة ورود الكرامات على أيدي عباد الله الصالحين،
فنقول: إن موقع الإشكال لدى البعض هو ما يلي:
Dan kami, ketika membahas perkara-perkara ini, berpandangan bahwa hikayat (cerita) bukanlah tolak ukur untuk menerima atau menolak keadaan seseorang (tokoh), sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.
Akan tetapi, jika kita mencermati hikayat ini dengan asumsi kebenarannya dan validitas penukilan para perawinya, maka kami secara yakin sama sekali tidak melihat di dalamnya ada hal yang bertentangan dengan syariat.
Hal ini kami tegaskan dengan memaparkan hikayat-hikayat tersebut kepada akal dan penalaran logis, setelah kami mengetahui (meyakini) validnya terjadinya karamah di tangan hamba-hamba Allah yang saleh.
Maka kami katakan: Sesungguhnya letak permasalahan (sumber keberatan) bagi sebagian orang adalah sebagai berikut:
١- ضمان الجنة، وهذا لا يملكه أحد في الدنيا ما عدا وعود الأنبياء بأمر الله تعالى،
وربما قارن البعض من المعترضين هذا الأمر بما يقال: صكوك الغفران لدى المسيحيين.
1.Jaminan Surga, dan hal ini tidak dimiliki oleh seorang pun di dunia kecuali janji-janji para Nabi atas perintah Allah Ta'ala.
Dan mungkin sebagian penentang membandingkan perkara ini dengan apa yang disebut: surat pengampunan dosa di kalangan umat Kristen.
٢- اطلاع الشيخ باعلوي على ما يدور في البرزخ وهو في الدنيا، وتفاعله مع ما يجري بين الفقير والملائكة.
٣- قول صاحب الكتاب بعد إيراد هذه الحكاية: قال بعضهم:
هكذا ينبغي أن يكون الشيخ، يحفظ مريده حتى بعد موته.
2. Pengetahuan (terbukanya pandangan) Syekh Ba'alawi tentang apa yang terjadi di alam Barzah padahal beliau masih berada di dunia, serta interaksinya dengan peristiwa yang berlangsung antara si faqir (orang tersebut) dan para malaikat.
3. Ucapan penulis buku (sumber cerita) setelah menuturkan kisah ini: "Sebagian mereka berkata: 'Beginilah seharusnya seorang Syekh (Guru), ia menjaga muridnya bahkan setelah kematiannya.'"
قلت والله أعلم: لا يوجد في سياق الحكاية ما يثبت ضمان الشيخ عبدالله باعلوي بالجنة للرجل أصلاً،
Saya berkata, Wallahu A'lam: Tidak terdapat dalam konteks kisah tersebut hal yang membuktikan adanya jaminan surga dari Syekh Abdullah Ba'alawi untuk laki-laki tersebut sama sekali.
فالذي ثبت في نص الكرامة قولان:
dan yang tercantum dalam teks karamah tersebut hanyalah dua perkataan:
الأول: قول الشيخ عبدالله باعلوي: (ليس ذلك إلي ولكن اطلب ما شئت من المال) نفى قدرته على الضمان، وهذا وحده كافٍ لنفي تهمة المعرضين.
الثاني: لما أصر الرجل على رغبته في ضمان الجنة؛ لم يوافقه الشيخ على بغيته بصيغة القطع أو التأكيد بالضمان بل قال له:
Pertama: Ucapan Syekh Abdullah Ba’alawi: "(Hal itu bukan wewenangku, tetapi mintalah harta semaumu)," beliau menafikan kemampuannya untuk memberi jaminan, dan fakta ini saja sudah cukup untuk membantah tuduhan orang-orang yang menentang.
الثاني: لما أصر الرجل على رغبته في ضمان الجنة؛ لم يوافقه الشيخ على بغيته بصيغة القطع أو التأكيد بالضمان بل قال له:
(إن حصل لنا شيء ما كرهنا، ودعا له بالجنة)،
Kedua: Ketika laki-laki itu bersikeras dengan keinginannya untuk mendapatkan jaminan Surga, Syekh tidak mengiyakan keinginannya itu dengan bentuk kalimat yang pasti (putus) atau penegasan berupa jaminan, melainkan beliau berkata kepadanya: "(Jika kami mendapatkan sesuatu [kebaikan/izin memberi syafaat], kami tidak akan keberatan), lalu beliau mendoakan surga untuknya."
وفي هذا دلالة واضحة على كمال الأدب مع المولى سبحانه وتعالى، وأن الأمر مقرون بالمشيئة،
وتُبَيِّنُه «إن» الشرطية ثم الدعاء بالجنة، وهذا أمر مسنون ومطلوب شرعاً.
Dan dalam hal ini terdapat petunjuk yang jelas atas kesempurnaan adab (sopan santun) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan bahwa perkara tersebut dikaitkan dengan Masyi'ah (kehendak Allah).
Hal itu dijelaskan oleh kata "Jika" (yang bermakna syarat/In asy-Syarthiyyah), kemudian diikuti dengan doa memohon surga, dan ini adalah perkara yang disunnahkan serta dituntut secara syariat.
وأما مسألة القول باطلاع الشيخ على ما يدور في عالم البرزخ
فأمر يحتمل التأويل على قسمين:
الأول: أن يكون الاطلاع من باب الكشف، وهذا معلوم لدى الأولياء بأمر الله تعالى،
وأن كل المتأخرين لا يقرون هذه المسألة ولا يؤمنون بها؛
ولكن الوقائع والأدلة تشير إلى حصول مثل هذه الأمور لدى بعض الصالحين،
ولسنا بصدد إثبات الحادثة، وإنما بصدد المنافحة عن شرف المترجم له من تهم التشريك والتكفير المعلنة،
فقد ورد في الحديث أن رجلاً ضرب خيمته على مكان من الأرض فسمع رجلاً يقرأ تحته بسورة تبارك،
وهذا السماع يقيني ثابت وإن كان مخالفاً للعقل، ولما جاء الرجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ليخبره بما سمع قال صلى الله عليه وسلم
بما معناه: (( ذاك رجل كان يقرؤها في الدنيا فأُعْطِيَها في قبره..)) ،
وبهذا الدليل ومثله يسقط احتجاج المانعين للسماع.
Adapun mengenai persoalan pendapat bahwa Syekh mengetahui apa yang terjadi di alam Barzah (alam kubur);
Maka perkara ini mengandung kemungkinan takwil (penafsiran) menjadi dua bagian:
Pertama: Bahwa pengetahuan (penglihatan) tersebut termasuk dalam bab Kasyaf, dan hal ini adalah sesuatu yang maklum di kalangan para Wali dengan izin Allah Ta'ala.
Meskipun seluruh ulama muta'akhirin (kelompok belakangan yang menolak tasawuf) tidak mengakui masalah ini dan tidak mempercayainya;
Akan tetapi fakta-fakta dan dalil-dalil mengisyaratkan terjadinya hal-hal seperti ini pada sebagian orang-orang saleh.
Dan kami tidak sedang dalam rangka membuktikan kejadian tersebut, melainkan sedang berupaya membela kehormatan tokoh yang sedang dibahas ini (Syekh tersebut) dari tuduhan-tuduhan syirik dan pengkafiran yang dilontarkan secara terang-terangan.
Sungguh telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa seseorang mendirikan kemahnya di atas suatu tempat di tanah, lalu ia mendengar seseorang membaca surat Tabarak (Al-Mulk) di bawahnya.
Dan pendengaran (suara) ini adalah sesuatu yang yaqin (pasti) dan tsabit (valid), meskipun hal itu bertentangan dengan akal (logika biasa). Dan ketika orang tersebut datang kepada Rasulullah SAW untuk mengabarkan apa yang ia dengar, Nabi SAW bersabda......yang maknanya (kurang lebih): "Itu adalah orang yang dahulu rajin membacanya di dunia, maka ia dikaruniai (kemampuan membacanya) di dalam kuburnya..."
Dan dengan dalil ini serta yang semisalnya, gugurlah argumentasi orang-orang yang mengingkari adanya pendengaran (suara dari alam kubur) tersebut.
الثاني: أن سياق الحكاية مبينة حدث الاطلاع دون إظهار الكيفية،
فالذي يحتمل عقلاً أن الشيخ أخذته سِنة من النوم،
فرأى في السِنة ما ورد على لسانه بعد ذلك، وهذا محتمل كل الاحتمال،
وإذا صح هذا الاحتمال انتفى الاحتجاج كليةً ببطلان الحكاية، لأن ورود مثل هذا في المنام غير مستحيل،
ويؤيد هذا ما ذكر أن الشيخ جلس عند قبره ساعة.
والذي يجعلنا نتقصَّى هذه المسائل ونرضخها للتعليل العقلي والمنطقي إشفاقنا الحقيقي على أهل لا إله إلا الله الذين أصابهم التخبط ولزمهم الخوض في أهل الله،
بسبب سوء النوايا الجاثمة على حملة الأقلام وبعض شيوخ المعرفة في هذه المرحلة.
Kedua: Bahwa konteks hikayat tersebut menjelaskan terjadinya al-ithla' (penyingkapan pengetahuan tentang hal gaib) tanpa menampakkan bagaimana caranya (kaifiyah-nya).
Maka yang mungkin secara akal adalah bahwa Syekh tersebut terserang rasa kantuk (tertidur sejenak/sinah),
Lalu dalam kantuknya itu beliau melihat apa yang kemudian terucap melalui lisannya setelah itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Dan jika kemungkinan ini benar, maka gugurlah seluruh argumentasi yang menyatakan batalnya hikayat tersebut secara total, karena terjadinya hal semacam ini di dalam mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Dan hal ini dikuatkan oleh keterangan yang menyebutkan bahwa Syekh tersebut duduk di sisi kuburnya sesaat.
Dan hal yang membuat kami menelusuri masalah-masalah ini serta menundukkannya pada penalaran akal dan logika adalah rasa kasihan kami yang sesungguhnya terhadap ahli "La ilaha illallah" (umat Islam) yang tertimpa kebingungan dan terjerumus dalam pembicaraan (buruk) mengenai ahlullah (Wali Allah/orang saleh),
Disebabkan oleh niat-niat buruk yang bercokol pada para penulis (pemegang pena) dan sebagian tokoh ilmu di masa ini.
...
Abdun bab cinta, si mayyit udah bener2 cinta kepada Syekh Abdullah ba'alawi dan kecintaan ini yang menyelamatkannya...karna kecintaan kepada orang sholeh dan ta'at kepada Allah, sudah cukup menjadi bukti kecintaannya kepada Allah.
dalam ithaf dibilang:
bahwa kecintaan kepada Allah Ta'ala, apabila telah kuat dan teguh di dalam hati, akan membuahkan kecintaan kepada setiap orang yang menunaikan hak ibadah kepada Allah Ta'ala, baik dalam ilmu maupun amal; serta membuahkan kecintaan kepada setiap orang yang memiliki sifat yang diridhai di sisi Allah Ta'ala, baik berupa akhlak yang baik maupun perilaku yang sesuai dengan adab syariat, yang mencakup perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya."
..
فسئل عن ذلك، فقال: إن الرجل لما سأله الملكان وقالا من ربك؟
Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau menjawab: "Sesungguhnya orang ini ketika ditanya oleh dua malaikat: 'Siapa Tuhanmu?'
قال: حبيبي عبد الله باعلوي، ومن نبيك؟ قال: حبيبي عبد الله باعلوي،
Ia menjawab: 'Kekasihku Abdullah Ba'alawi.' Dan (ketika ditanya) 'Siapa Nabimu?' Ia menjawab: 'Kekasihku Abdullah Ba'alawi.'
