DARI THAI SAMPAI BRASIL, BEGINI CARA MEDIA ASING MEMBACA KEMENANGAN INDONESIA YANG MEMBUAT MEREKA TIDAK BISA DIAM

 

Selasa, 6 Oktober 2026

Faktakini.info

DARI THAI SAMPAI BRASIL, BEGINI CARA MEDIA ASING MEMBACA KEMENANGAN INDONESIA YANG MEMBUAT MEREKA TIDAK BISA DIAM

Ketika Shayne Pattynama mencetak penalti keempat dan Emil Audero merayakan di bawah mistar GBK, reaksi yang pecah tidak hanya di Jakarta. Di ruang redaksi olahraga di Bangkok, Amsterdam, Kuala Lumpur, Hanoi, São Paulo, dan berbagai kota di dunia, para jurnalis mulai mengetik.

Dan apa yang mereka tulis tentang Indonesia malam itu terasa berbeda dari biasanya.

Media Thailand adalah yang paling banyak disorot. Thairath, salah satu media terbesar di Thailand, menulis dengan nada yang penuh respek namun tetap menonjolkan drama dari sisi mereka: Thailand dengan 10 pemain bermain imbang dengan Indonesia sebelum kalah melalui adu penalti. Kartu merah Weerathep Pomjan di extra time menjadi sorotan utama, bukan kekalahan itu sendiri. 

Siamsport menambahkan lapisan lain yang lebih tajam: seluruh starting XI Indonesia di final lahir di luar Indonesia. Itu bukan tuduhan, tapi pengamatan tentang bagaimana Indonesia membangun tim lewat jalur naturalisasi yang masif. BallThai memilih mengutip pujian Anthony Hudson kepada Indonesia dan menggambarkan Garuda sebagai tim yang berada di jalur yang benar dalam perkembangan sepak bola Asia Tenggara.

Media Malaysia, Makan Bola, memilih judul yang jujur: Indonesia harus dipaksa bekerja keras oleh Thailand. Bukan kemenangan mudah, bukan dominasi total. Tapi tetap kemenangan yang pantas. Media ini mengakui Garuda pantang menyerah sepanjang pertandingan.

Media Belanda punya angle berbeda. Voetbal Primeur, media sepak bola berbahasa Belanda, menyoroti satu keputusan John Herdman yang kontroversial: memilih Emil Audero ketimbang Maarten Paes sebagai penjaga gawang di final. Keputusan itu ternyata brilian, Audero menepis dua penalti. Tapi tetap menarik bahwa dari Amsterdam, yang paling diperhatikan adalah Paes yang tidak bermain.

Media Vietnam berbeda lagi nadanya. Soha menyoroti drama personal Elkan Baggott, dari kehilangan bola di situasi genting hingga mencetak gol penyama dan sukses di adu penalti. Tapi ada juga media Vietnam yang lebih keras: menyebut Indonesia sebagai tuan rumah yang mendapat banyak keuntungan dari penyelenggaraan, mulai dari komposisi grup, suporter, hingga kontroversi tambahan waktu tujuh menit yang menguntungkan Indonesia lolos ke final.

Media Brasil punya perspektif unik tersendiri. TNT Sports Brasil, yang mengikuti turnamen ini karena ada pemain naturalisasi Malaysia asal Brasil bernama Bergson da Silva, terpukau bukan dengan kemenangan Indonesia di final tapi dengan cara Indonesia lolos ke final: menang 9-2 atas Bangladesh dengan tiga gol di masa injury time karena butuh tujuh gol kemenangan. Ini, tulis mereka, adalah hal yang sungguh tidak biasa dalam sepak bola modern.

Sementara akun bola 433, salah satu akun sepak bola terbesar di dunia dengan ratusan juta pengikut, hanya menulis ringkas: Indonesia memenangkan gelar ASEAN FIFA untuk pertama kalinya. Kalimat itu sudah cukup untuk membuat postingan itu dibagikan ratusan ribu kali.

AFC langsung memberikan pujian resmi. FIFA pun menyoroti nama-nama pemain kunci yang membuat kemenangan itu terjadi.

Satu hal yang konsisten dari hampir semua sorotan media asing: tidak ada yang meremehkan. Indonesia baru saja menjadi juara di hadapan dunia, dan dunia mencatatnya.

Menurut kamu, dari semua sorotan media asing itu, mana yang paling akurat menggambarkan perjalanan Indonesia di turnamen ini? Tulis di kolom komentar!

#IndonesiaJuara #FIFAASEANCup2026 #MediaAsing #GarudaMendunia #DesasDesusCerdas