Persahabatan KH Mohammad Masthuro Sukabumi dan Habib Syech bin Salim al Attas
Jum'at, 3 Juli 2026
Faktakini.info, Jakarta - Ada dua tokoh di postingan ini.
Pertama, KH Mohammad Masthuro (berkacamata). Beliau pendiri Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi pada tahun 1920. Lahir 1920 dan wafat 1968.
Kedua, Alhabib Syech bin Salim al Attas. Wafat 1978, 10 tahun setelah KH Masthuro. Habib Syech adalah gurunya KH Muhammad Masthuro, dan guru dari banyak kyai dan ajengan di Sukabumi dan Cianjur.
Ada yang menarik dari hubungan keduanya, hubungan guru-murid yang khas. Semasa hidup, Habib Syech sering berkunjung ke Pesantren Tipar tempat kediaman KH Muhammad Masthuro. Sesudah wafat pun terkadang Habib Syech mengunjungi pesantren dan berziarah ke muridnya.
Yang menarik lagi, ketika Habib Syech wafat 1978, banyak para murid yang kyai, sengaja menawarkan tempat di pesantrennya untuk dijadikan makamnya. Ada bahkan yang langsung menggalinya. Kebanggaan tentunya kalau gurunya berada di pesantrennya. Itulah hubungan guru-murid di Pesantren. Hubungan tanpa batas, tanpa sekat. Tanpa akhir.
Akan tetapi, begitu akan dimakamkan, ditemukan wasiat dari Habib Syech agar dimakamkan di dekat muridnya KH Muhammad Masthuro di Pesantren Al-Masthuriyah Tipar. Dan, keluarga pun tidak bisa menolaknya karena itu wasiat.
Habib Syech berwasiat seperti itu, bukan tidak punya apa-apa. Tetapi ada alasan lain, yang baik keluarga Habib Syech maupun kel KH Muhammad Masthuro tidak mengerti dan memahami secara pasti sebabnya . Mereka hanya mengira-ngira saja, bahwa itu terjadi karena KH Muhammad Masthuro menghormati dan mencintai gurunya melebihi kecintaan murid lainnya. Demikian juga sebaliknya.
Nah, sekarang di pemakaman Pesantren Al-Masthuriyah, ada dua makam berdampingan; makam guru Habib Syech dan makam murid KH Muhammad Masthuro . Saya menyebutnya sebagai simbol hubungan guru-murid.
Pelajaran bagi kita bahwa murid sejatinya menghormati guru dan mentaatinya. Dan guru harus memandang murid sebagai dirinya, bukan orang lain.
Lahumal fatihah .
