Mayor Inf. Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf: Sudah Tiga Kali Bertaruh Nyawa Dalam Operasi Militer untuk Indonesia

 


Senin, 27 Juli 2026

Faktakini.info, Jakarta - Ia adalah Mayor Infanteri Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf, seorang perwira TNI Angkatan Darat yang membuktikan bahwa mencintai agama dan mencintai tanah air dapat berjalan beriringan.

Lahir di Jeddah, Arab Saudi, pada 29 Juli 1987, Habib Ahmad merupakan putra Habib Muhammad bin Hamid Assegaf asal Pekalongan, Jawa Tengah. Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah-pindah dari Arab Saudi ke Singapura sebelum akhirnya menetap di Jakarta bersama keluarganya saat berusia tujuh tahun.

Sejak kecil, Habib Ahmad tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Namun, perjalanan hidupnya berubah ketika sang ayah menunjukkan sebuah brosur pendaftaran Akademi Militer (Akmil). Sang ayah mengungkapkan bahwa dirinya dahulu sangat bercita-cita menjadi prajurit, tetapi tidak dapat mewujudkannya karena aturan pada masa itu yang tidak mengizinkan anak laki-laki tunggal mengikuti pendidikan militer.

Keinginan sang ayah itulah yang kemudian menjadi penyemangat bagi Habib Ahmad. Dengan tekad kuat, ia mengikuti seluruh tahapan seleksi Akmil hingga akhirnya berhasil diterima sebagai taruna. Baginya, menjadi prajurit bukan sekadar profesi, melainkan bentuk bakti kepada orang tua sekaligus pengabdian kepada bangsa dan negara.

Setelah lulus dan dilantik sebagai perwira pada tahun 2008, Habib Ahmad memulai karier militernya pada Batalyon Infanteri Para Raider 431 di Kariango, Makassar. Di satuan tersebut ia meniti karier mulai dari Letnan Dua, kemudian mengemban berbagai jabatan penting. Seiring perjalanan dinasnya, ia terus mengembangkan kemampuan melalui berbagai pendidikan militer dan dipercaya mengisi posisi strategis, di antaranya sebagai Perwira Seksi Pengamanan, mengikuti pendidikan lanjutan pada tahun 2018, menjabat Kepala Seksi Intelijen di Malang, bertugas di Jabung pada periode 2019–2022, hingga dipercaya menjadi Wakil Komandan Batalyon Para Raider 503 di Mojokerto.

Kariernya juga diwarnai berbagai penugasan operasi yang penuh risiko. Habib Ahmad telah menjalankan tiga operasi militer, terdiri atas dua kali operasi Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG) pada 2011–2012 dan 2015–2016, serta satu penugasan luar negeri. Bertugas di wilayah perbatasan menuntut kesiapsiagaan tinggi, ketangguhan fisik, dan pengorbanan besar demi menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di balik seragam loreng yang dikenakannya, tersimpan kisah pengorbanan sebagai seorang suami. Habib Ahmad menikah pada tahun 2013, namun kehidupan rumah tangganya kerap diuji oleh panggilan tugas. Ia pernah harus berpisah dengan istrinya selama sembilan bulan, bahkan meninggalkan sang istri yang sedang mengandung demi menjalankan amanah negara. Dukungan penuh dari keluarganya menjadi kekuatan utama dalam menjalankan setiap penugasan.

Kisah Mayor Inf. Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf menjadi bukti bahwa pengabdian kepada Allah SWT dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Selain melalui dakwah, menjaga keamanan bangsa, melindungi rakyat, dan mempertahankan kedaulatan negara juga merupakan jalan pengabdian yang mulia. Sosoknya menginspirasi bahwa iman, pengabdian kepada orang tua, dan kecintaan kepada tanah air dapat menyatu dalam diri seorang prajurit.

Sumber : liputan6.com

#MayorAhmadAssegaf #TNIAD #HabibIndonesia #PengabdianNegara #InspirasiPrajurit