Mukimad, Jangan Terlalu Bangga Menyebar Kebencian: Ingatlah, Kebencian Itu Akhirnya Merugikan Diri Sendiri

 


Jum'at, 5 Juni 2026

Faktakini.info

Mukimad, Jangan Terlalu Bangga Menyebar Kebencian: Ingatlah, Kebencian Itu Akhirnya Merugikan Diri Sendiri

Di tengah hiruk-pikuknya kegaduhan yang kamu buat, di tengah riuh rendah teriakan dan fitnah yang kamu sebarkan ke sana ke mari, tampak sekali ada rasa bangga yang meluap-luap di dirimu, wahai Mukimad. Kamu merasa hebat, merasa jaya, merasa berhasil, dan merasa menang besar karena telah berhasil menanamkan benih-benih kebencian di hati sebagian orang. Kamu bangga bisa mengadu domba, bangga bisa memutarbalikkan fakta, bangga bisa membuat orang lain saling curiga, saling benci, dan saling memusuhi.

Kamu mengira, dengan menyebarkan kebencian kepada para Habaib, kepada keluarga Ba ‘Alawi, kepada Ahlul Bait Rasulullah ﷺ, dan kepada siapa saja yang tidak sejalan dengan pemahaman sempitmu... kamu sedang melakukan perbuatan mulia. Kamu mengira itu adalah perjuangan, itu adalah pembelaan, itu adalah kemenangan besar bagimu dan pengikutmu.

TAPI INGATLAH BAIK-BAIK, MUKIMAD...

Jangan terlalu bangga, jangan terlalu berpuas diri, dan jangan merasa menang. Karena ada satu hukum alam, ada satu aturan kebenaran, ada satu ketetapan Allah SWT yang tidak akan pernah berubah dan tidak bisa kamu elakkan:

"KEBENCIAN YANG KAMU SEBAR DAN KAMU BANGGAKAN ITU, PADA AKHIRNYA TIDAK AKAN PERNAH MERUGIKAN ORANG LAIN. TAPI DIPASTIKAN AKAN MERUGIKAN DIRI KAMU SENDIRI, SANGAT MERUGIKAN, DAN MENJADI KEHANCURAN BAGIMU."

1. Kebencian Membuat Dirimu Menderita, Bukan Mereka

Coba lihat dan perhatikan baik-baik, siapa yang sebenarnya menderita di sini? Siapa yang sebenarnya dirugikan?

Para Habaib, Ahlul Bait, dan keluarga Ba ‘Alawi yang kamu benci habis-habisan, yang kamu fitnah sejadi-jadinya, yang kamu serang dari segala penjuru... apakah mereka menjadi miskin? Tidak. Apakah mereka menjadi hina di mata umat? Tidak. Apakah kehormatan mereka hilang? JAUH DARI ITU!

Justru sebaliknya! Semakin kamu benci, semakin kamu fitnah, semakin kamu serang... justru semakin Allah meninggikan derajat mereka. Semakin umat mengenal kebenaran mereka, semakin masyarakat mencintai mereka, semakin ribuan bahkan jutaan manusia berbondong-bondong datang ke majelis mereka, memuliakan mereka, dan mendoakan kebaikan buat mereka.

Kehidupan mereka damai, hati mereka tenang, akhlak mereka terpuji, dan mereka tetap berkarya menyebarkan kasih sayang serta persatuan. Mereka hidup bahagia, dicintai Allah, dan dicintai makhluk-Nya.

LALU SIAPA YANG MENDERITA? DIRIMU SENDIRI, MUKIMAD!

Lihatlah dirimu: Hatimu panas membara setiap hari. Pikiranmu tidak pernah tenang, selalu penuh amarah, penuh dendam, penuh rencana jahat, dan penuh rasa iri hati yang membakar batinmu. Tidurmu tidak nyenyak, dudukmu tidak tenang, bicaramu selalu kasar, dan wajahmu selalu kelihatan keruh serta penuh kebencian.

Kamu memakan hatimu sendiri, kamu menyiksa dirimu sendiri, kamu membuat hidupmu sendiri penuh kegelisahan. Padahal mereka yang kamu benci itu tidak pernah memikirkanmu, tidak pernah membalas kejahatanmu, dan tidak pernah mengganggumu.

JADI JELAS SUDAH:

Kebencian yang kamu banggakan itu TIDAK MENGAPA-APAKAN MEREKA, tapi dia MEMBAKAR DAN MERUGIKAN DIRIMU SENDIRI. Kamu yang rugi, kamu yang sakit, kamu yang menderita. Sungguh kebodohan yang luar biasa: menyakiti diri sendiri dengan alasan ingin menyakiti orang lain, padahal orang lain tidak tersakiti sedikit pun.

2. Kamu Bangga Menebar Kebencian, Padahal Itu Dosa Terbesar

Kamu sering mengaku-ngaku sebagai pembela agama, kamu sering mengaku berjuang di jalan Allah, kamu sering mengaku memegang teguh ajaran Wali Allah. Tapi coba renungkan: Apakah agama Allah mengajarkan membenci? Apakah ajaran Rasulullah ﷺ mengajarkan mengadu domba? Apakah jalan Wali Allah mengajarkan menebar permusuhan?

Tidak pernah! Bahkan sebaliknya.

Agama ini datang membawa kasih sayang.

Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Para Wali Allah dikenal karena akhlak mulia dan cintanya kepada sesama.

Lalu apa yang kamu lakukan, Mukimad?

Kamu sibuk menyebarkan kebencian, memfitnah, mencaci maki, meragukan kehormatan orang lain, memecah belah persatuan umat, dan menanamkan permusuhan antar sesama anak bangsa serta sesama muslim.

Dan kamu BANGGA dengan semua itu? Kamu merasa itu prestasi? Kamu merasa itu jasa besar?

INGATLAH!

Di sisi Allah, perbuatan membenci saudara seiman, perbuatan memecah belah umat, dan perbuatan memfitnah orang yang tidak bersalah adalah DOSA BESAR, dosa yang sangat besar, dosa yang kejahatannya melebihi banyak dosa lainnya.

Setiap kata benci yang kamu ucapkan, setiap fitnah yang kamu tulis, setiap hati yang kamu lukai, setiap persaudaraan yang kamu putus... semuanya dicatat rapi. Kamu mengira itu kemenangan, padahal itu adalah TUMPUKAN DOSA yang kamu bawa untuk nanti dipertanggungjawabkan.

Kamu bangga menyebar kebencian, tapi kamu tidak sadar kamu sedang MENUMPUK KERUGIAN TERBESAR BAGI DIRIMU SENDIRI DI AKHIRAT. Kamu rugi pahala, kamu rugi amal saleh, kamu rugi keberkahan, dan kamu sedang menggali lubang neraka yang dalam buat dirimu sendiri.

Orang yang berakal sehat akan menghindari dosa, tapi kamu malah bangga-banggakan dosa. Sungguh kerugian yang nyata!

3. Kebencian Akan Membuatmu Rugi Dunia dan Akhirat

Kerugian yang kamu alami karena kebencian ini tidak main-main, Mukimad. Kerugian itu mencakup dua kehidupan: Dunia dan Akhirat.

✅ RUGI DI DUNIA:

Kamu menghabiskan umur, menghabiskan tenaga, menghabiskan pikiran, dan menghabiskan harta... cuma buat urusan benci-membenci. Kamu tidak produktif, kamu tidak bermanfaat, kamu tidak menghasilkan apa-apa yang berguna bagi bangsa dan agama. Hidupmu penuh kegaduhan, namamu dikenal bukan karena kebaikan tapi karena kejahatan, dan kamu makin lama makin terisolasi, makin lama makin dijauhi orang berakal. Pengikutmu makin hari makin sadar dan meninggalkanmu. Apa untungnya? Tidak ada sama sekali. Semua rugi buatmu.

✅ RUGI DI AKHIRAT:

Ini yang paling dahsyat dan paling mengerikan. Nanti di hari akhir, saat segala kebenaran terungkap, saat setiap rahasia terbuka... betapa hancurnya dirimu saat tahu bahwa orang-orang yang kamu benci, orang-orang yang kamu fitnah, orang-orang yang kamu serang itu... ternyata adalah orang-orang yang dicintai Allah, orang-orang yang mulia, orang-orang yang masuk surga.

Dan kamu? Kamu berdiri tertunduk malu, ditanya tentang setiap fitnah, ditanya tentang setiap kebencian, ditanya kenapa kamu memusuhi Ahlul Bait Rasulullah ﷺ. Dan saat itu, semua rasa bangga yang kamu miliki di dunia ini akan berubah menjadi KEHANCURAN YANG ABADI.

Kamu kalah telak. Kamu rugi total. Kamu bangga di dunia sebentar, tapi menderita dan rugi selamanya di akhirat.

KESIMPULAN: Berhentilah, Sebelum Terlambat

Mukimad, sadarlah selagi ada waktu.

Jangan terlalu bangga lagi menyebarkan kebencian itu. Itu bukan kemenangan, itu bukan prestasi, itu bukan kehebatan. Itu hanyalah KEBODOHAN DAN KERUGIAN YANG BESAR.

Ingatlah pesan ini baik-baik:

Kebencian itu ibarat memegang bara api panas dengan tujuan melemparnya ke orang lain. Sebelum sampai ke orang lain, tanganmu sendiri sudah duluan terbakar dan hancur.

Orang yang kamu benci tidak apa-apa, dia tetap mulia, tetap damai, tetap dicintai Allah. Tapi kamu? Kamu yang terbakar, kamu yang hancur, kamu yang rugi.

Berhentilah membenci, berhentilah memfitnah, berhentilah memecah belah. Masih ada waktu untuk bertobat, masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Tapi kalau kamu tetap keras kepala, tetap bangga dengan kebencianmu... maka biarlah kamu rasakan sendiri akibatnya. Biarlah kamu rasakan sendiri betapa ruginya hidup penuh kebencian, betapa sakitnya dihukum Allah karena memusuhi orang yang dicintai-Nya.

 

Sekali lagi: JANGAN TERLALU BANGGA MENYEBAR KEBENCIAN. INGATLAH, KEBENCIAN ITU PASTI AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI.