KisahPerjumpaan Syayidi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dengan Nabi Khidhir di Baghdad
Rabu, 10 Juni 2026
Faktakini.info
KisahPerjumpaan Syayidi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dengan Nabi Khidhir di Baghdad
Ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailany Ra tiba di Baghdad, beliau berusia 18 tahun. Ketika beliau mencapai pintu gerbang kota, Nabi Khidir.as muncul dan menghalanginya untuk memasuki pintu gerbang kota. Nabi Khidir berkata kepadanya bahwa hal itu adalah perintah Allah untuk tidak memasuki kota Baghdad selama tujuh tahun yang akan datang.
Nabi Khidir.as membawanya ke sebuah reruntuhan di gurun pasir dan berkata:
”Tinggallah disini dan jangan meninggalkan tempat ini.”
Syekh Abdul Qadir tinggal disana selama tiga tahun. Setiap tahun, Nabi Khidir akan muncul kepadanya dan berkata kepadanya dimana beliau harus tinggal.
Syekh Abdul Qadir Al-jailany Ra bercerita mengenai masa tiga tahun yang di alaminya :
“Selama menetap di padang pasir di luar Bagdhad, semua yang kulihat hanyalah keindahan dunia. Semuanya menggodaku. Namun, Allah melindungiku dari godaannya. Setan, yang muncul dalam berbagai paras dan rupa, terus mendatangiku, menggoda, mengusik, bahkan menyerangku. Allah selalu menjadikanku sebagai pemenang.
Hawa nafsuku pun datang setiap hari dengan paras dan rupa diriku sendiri memohon agar aku sudi menjadi sahabatnya. Ketika kutolak, ia menyerangku. Allah menjadikanku sebagai pemenang dalam peperangan tanpa henti itu. Aku berhasil menjadikannya sebagai tawananku selama bertahun-tahun dan memaksanya tinggal di bangunan tua di padang pasir itu.
Selama beberapa tahun aku hanya makan rerumputan dan akar-akaran yang dapat kutemukan. Selama itu pula aku tak pernah minum. Tahun berikutnya aku hanya minum tanpa makan apa-apa. Dan tahun berikutnya aku tak makan, tak minum, bahkan tak tidur. Aku tinggal di bangunan tua istana raja-raja Persia di Karkh.
Aku berjalan bertelanjang kaki di atas duri-duri padang pasir dan tak merasakan apa-apa. Aku terus berjalan. Setiap kali kulihat tebing, aku merasa mendakinya. Tak sedikitpun kuberikan kesempatan kepada hawa nafsuku untuk beristirahat atau merasa nyaman.
Pada akhir tahun ketujuh, pada suatu malam, aku mendengar satu suara menyeru: “Hai Abdul Qadir kini kau dapat memasuki Baghdad.”
Akhirnya kumasuki kota Baghdad dan tinggal beberapa hari. Namun, aku tak tahan menyaksikan kemaksiatan, kesesatan dan kelicikan yang merajalela di kota itu. Agar terhindar dari pengaruh buruknya, aku pergi meninggalkan Baghdad dengan hanya membawa al-Quran.
Namun, ketika tiba di gerbang kota itu untuk kembali menyendiri di padang sahara, kudengar satu suara berbisik:
“Ke mana kau akan pergi? Kembalilah. Kau harus menolong masyarakat.”
“Kenapa harus kupedulikan orang-orang bobrok itu? Aku harus melindungi imanku!” Seruku lantang.
“Kembalilah, dan jangan khawatirkan imanmu.” Bisikan suara itu terdengar lagi.
“Tak ada sesuatu pun yang akan membahayakan dirimu.”
Aku tak dapat melihat siapa gerangan yang berbicara itu.
Kemudian sesuatu terjadi atas diriku. Entah apa yang mendorongku, tiba-tiba aku bertafakur. Seharian aku berdoa kepada Allah semoga Dia berkenan membuka tabir dariku sehingga mengetahui apa yang harus aku lakukan.
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Semoga senantiasa tercurahkan kepadanya rohmat, kesejahteraan dan melimpahkan kepada kita dengan rahasia Allah dalam semua waktu dan tempat. Aamiin 🤲
