Bukan Tesis, Tapi Fitnah Pesanan: Ternak Mulyono & Imaduddin Kabur Dari Tanggung Jawab
Bukan Tesis, Tapi Fitnah Pesanan: Ternak Mulyono & Imaduddin Kabur Dari Tanggung Jawab
Istilah "Tesis" itu punya makna yang sangat berat, sangat serius, dan punya aturan main yang ketat. Dalam dunia ilmu pengetahuan, sejarah, maupun akademik, sebuah pendapat atau klaim baru boleh disebut "Tesis" jika ia lahir dari kajian mendalam, riset yang panjang, dibuktikan dengan data, lalu diuji, diperdebatkan, dan dipertanggungjawabkan di hadapan para ahli, pakar, atau orang yang kompeten.
Tesis itu bukan sekadar omongan asal bunyi, bukan tulisan seenaknya di kertas atau layar hitam, bukan rekayasa data, dan pasti bukan hasil karangan untuk kepentingan membenci orang lain. Intinya: Tesis itu harus berani diuji dan berani dipertanggungjawabkan.
Nah, kalau kita bicara soal apa yang dilakukan oleh Ternak Mulyono dan Imaduddin beserta kelompoknya, jangan harap bisa disebut Tesis. Jangan harap bisa disebut karya ilmiah. Jangan harap dianggap pendapat yang berdasar.
Yang mereka buat dan sebarkan itu BUKAN TESIS, TAPI FITNAH PESANAN MURAHAN!
Berikut bukti tuntas kenapa apa yang mereka lakukan itu jauh dari kata tesis, dan murni hanya fitnah keji yang mereka sebarkan, lalu mereka kabur saat diminta bukti.
1. Tesis Wajib Ada Proses Pengkajian & Uji Coba: Mereka Tidak Punya Sama Sekali
Ini perbedaan paling mendasar dan paling jelas.
Sebuah tesis, teori, atau pendapat ilmiah yang sahih, pasti melewati jalan yang panjang:
✅ Pengkajian Mendalam: Membaca sumber asli, meneliti sejarah, mengumpulkan data, membandingkan berbagai pendapat, memastikan kebenaran fakta.
✅ Uji Coba & Verifikasi: Data yang didapat diperiksa ulang, ditanya ke ahli, dibandingkan dengan penelitian orang lain, diuji kebenarannya, dan dicari kelemahannya.
✅ Diuji Publik: Penulis berani memaparkan hasilnya, berani ditanya, berani dikoreksi, dan berani menjawab setiap tantangan dengan data dan dalil.
Tapi lihat apa yang dilakukan Ternak Mulyono dan Imaduddin? ❌
❌ Tidak Ada Pengkajian: Semua tulisan, semua klaim, semua narasi mereka itu KOSONG DARI SUMBER ASLI. Mereka tidak pernah buka kitab sejarah asli, mereka tidak pernah buka silsilah sahih, mereka tidak pernah baca pendapat ulama. Semua yang mereka tulis itu KARANGAN SENDIRI, REKAYASA SENDIRI, DAN PEMBALIKAN FAKTA SENDIRI.
❌ Tidak Ada Uji Coba: Mereka tidak pernah memeriksa ulang kebenaran data mereka. Mereka tidak mau tahu pendapat ahli sejarah atau ahli nasab. Apa yang ada di kepala mereka, apa yang cocok dengan kebencian mereka, itulah yang mereka tulis sebagai "fakta". Padahal semuanya salah besar.
❌ Tidak Ada Dasar Ilmiah: Mereka mengaku soal DNA, tapi memutarbalikkan definisi. Mereka mengaku soal sejarah, tapi menghapus bukti nyata. Mereka mengaku soal silsilah, tapi mengarang sambungan sendiri.
Jadi jelas: Yang mereka buat itu bukan hasil kajian, tapi hasil "RAKITAN FITNAH". Tidak ada nilai ilmunya sama sekali. Itu cuma kumpulan kebohongan yang disusun rapi supaya kelihatan pintar.
2. Imaduddin Malah Kabur Berkali-kali, Tak Mau Tanggung Jawab
Ciri paling nyata orang yang punya tesis, punya pendapat, dan memegang kebenaran adalah: BERANI HADAP, BERANI JAWAB, BERANI DEBAT.
Kalau kamu benar, kalau datamu sahih, kalau argumenmu kuat... kenapa harus takut? Kenapa harus lari? Kenapa harus sembunyi?
Tapi apa kelakuan Imaduddin? Ini yang paling memalukan dan membongkar semua kepalsuan dia.
Berkali-kali diajak bertemu, diajak berdiskusi ilmiah, diajak debat terbuka di hadapan para ulama, ahli sejarah, dan ahli genetika... apa jawabannya?
SELALU KABUR! SELALU MENGELAK! SELALU PUNYA ALASAN!
Pola kelakuannya sudah menjadi rahasia umum:
1. Saat dia bisa bicara sendiri, tanpa ada yang bantah: SUARANYA MENGGELEGAR, DIALAH PALING BENAR, DIALAH PALING PINTAR. Dia teriak soal "tesis"-nya itu seolah sudah pasti benar.
2. Saat ada yang kasih bukti, ada yang tunjukkan kesalahan, ada yang bawa kitab asli: DIA LANGSUNG UBAH TOPIK, LANGSUNG MARAH, LANGSUNG BILANG "ITU SALAH", TAPI TIDAK BISA JELASKAN KENAPA.
3. Saat diajak bertemu muka dan buktikan satu-satu: DIA HILANG, DIA KABUR, DIA TOLAK DENGAN SERIBU ALASAN. Mulai dari sakit, sibuk, tidak waktunya, atau malah menuduh orang lain mau mencelakai dia.
Ini bukan sikap orang yang punya tesis! Ini sikap orang yang punya FITNAH!
Orang yang punya tesis dia akan bangga diuji. Dia akan senang pendapatnya dikritik supaya makin sempurna. Tapi Imaduddin? Dia takut mati kalau harus diuji. Kenapa?
KARENA DIA SADAR BETUL: APA YANG DIA SEBAR ITU ADALAH KEBOHONGAN.
Dia tahu betul, begitu dia duduk berhadapan, begitu kitab dibuka, begitu data asli ditampilkan... kedoknya akan robek seketika. Dia akan malu seumur hidup. Dia akan ketahuan semua orang bahwa dia penipu ulung. Makanya satu-satunya jalan buat dia adalah: KABUR, KABUR, DAN KABUR.
Dia tidak mau bertanggung jawab. Dia tidak mau menjawab kebenaran. Dia cuma mau menebar kebencian, menebar fitnah, lalu lari sembunyi di balik layar.
3. Ternak Mulyono: Penulis Fitnah Pesanan, Bukan Peneliti
Kalau Imaduddin si penyebar dan pemimpinnya, maka Ternak Mulyono adalah "tukang tulis" atau pembuat naskah kebohongan itu.
Karya-karya tulis yang dihasilkan Ternak Mulyono itu sering dipajang, disebar, dan dianggap sebagai "kitab suci" oleh kelompok pembenci itu. Padahal kalau dibedah sedikit saja, isinya kosong melompong, penuh kebohongan, penuh pemutarbalikan fakta, dan tidak ada dasar apa pun.
Dia mengarang tulisan itu bukan karena dia cinta ilmu, bukan karena dia cari kebenaran, tapi murni FITNAH PESANAN.
Dia menulis sesuai selera pemimpinnya, sesuai kebencian kelompoknya, sesuai apa yang diperintahkan. Dia tidak peduli benar atau salah, dia tidak peduli merusak nama baik orang, dia tidak peduli memecah belah umat. Yang penting dia bisa menghasilkan tulisan yang memuaskan hati pembenci, yang memojokkan Habaib, yang meragukan nasab sahih.
Itulah sebabnya tulisan Ternak Mulyono TIDAK LAYAK DISEBUT TESIS.
- Tesis itu mencari kebenaran → Tulisan Ternak Mulyono mencari kesalahan orang lain.
- Tesis itu berdasar fakta → Tulisan Ternak Mulyono berdasar prasangka dan rekayasa.
- Tesis itu terbuka untuk dikritik → Tulisan Ternak Mulyono dilarang dikoreksi, kalau dikoreksi pemiliknya marah dan kabur.
Jelas sudah: Ternak Mulyono itu bukan peneliti, bukan sejarawan, bukan pakar apa-apa. Dia hanyalah PENYUSUN FITNAH, orang yang dibayar atau dibutakan hatinya untuk menuliskan kebohongan demi kepentingan kelompok tertentu.
KESIMPULAN: Jangan Tertipu Istilah "Tesis" Mereka!
Kata-kata manis, kemasan indah, gaya bahasa ilmiah, dan klaim berdasar sejarah yang mereka pakai itu cuma topeng saja.
Fakta nyatanya:
✅ Tidak ada proses pengkajian yang benar.
✅ Tidak ada uji coba atau verifikasi data.
✅ Imaduddin & Ternak Mulyono berkali-kali kabur saat diminta bukti dan tanggung jawab.
Maka kesimpulannya mutlak dan tidak terbantahkan:
"Itu bukan Tesis, itu bukan pendapat ilmiah, itu bukan hasil kajian... ITU MURNI FITNAH, FITNAH PESANAN, DAN REKAYASA KOTOR!"
Orang yang benar tidak akan kabur. Orang yang punya kebenaran tidak akan takut debat. Orang yang punya tesis pasti berani mempertanggungjawabkan.
Karena Imaduddin dan kawan-kawannya SELALU KABUR DAN TIDAK MAU TANGGUNG JAWAB, maka semua orang sudah tahu jawabannya: Mereka penipu, mereka pemfitnah, dan apa yang mereka sebarkan adalah sampah kebohongan yang tidak ada harganya sama sekali.
Biarkan saja mereka sibuk membuat tulisan fitnah. Tapi ingatlah: Setiap kata fitnah itu dosa, dan lari dari tanggung jawab itu adalah tanda kekalahan yang paling memalukan.
