UPAYA SANDARKAN NASAB KE WALISONGO TEMUI JALAN BUNTU, IMADUDIN CS ALIH STRATEGI SANDARKAN SANAD DEMI LEGITIMASI DAN AMBISI PRIBADI
UPAYA SANDARKAN NASAB KE WALISONGO TEMUI JALAN BUNTU, IMADUDIN CS ALIH STRATEGI SANDARKAN SANAD DEMI LEGITIMASI DAN AMBISI PRIBADI
Otoritas keagamaan di Nusantara kini tengah menghadapi fenomena yang memprihatinkan. Setelah upaya pembuktian nasab (garis keturunan) biologis ke Walisongo menemui jalan buntu akibat absennya bukti sejarah yang valid, KH. Imaduddin Utsman beserta kelompoknya ditengarai melakukan manuver tajam: berpindah haluan dari klaim darah (nasab) ke klaim kertas (sanad keilmuan). Langkah ini dipandang bukan sebagai pencarian keberkahan, melainkan strategi bertahan demi menjaga citra dan ambisi pribadi.
Manuver Cilacap: Klaim Paksa dan "Pembegalan" Sanad
Strategi alih haluan ini tampak jelas saat kunjungan Imaduddin ke Cilacap baru-baru ini. Ia mengklaim mendapatkan mata rantai sanad yang menyambung hingga Sunan Ampel melalui penemuan manuskrip milik keluarga Kiai Raden Mas Muhammad Salim. Namun, langkah ini memicu kecaman keras karena dianggap sebagai bentuk "pembegalan sanad".
Dalam tradisi pesantren yang luhur, ijazah sanad diberikan atas keridaan guru setelah melalui proses panjang. Jika seseorang tiba-tiba mengaku memiliki sandaran sanad hanya karena pertemuan singkat atau akses terhadap fisik manuskrip tanpa pernah belajar dari sang Muiz (pemberi ijazah), maka hal tersebut hanyalah sebuah klaim paksa. Tanpa restu dan pengakuan tulus dari pemegang sanad sebelumnya, ijazah tersebut kehilangan esensi hukum dan spiritualnya.
Pelanggaran Etika Tholibul Ilmi: Sanad Tanpa Ilmu
Bagi para Tholibin (penuntut ilmu), tindakan mendapatkan sanad tanpa belajar adalah cacat moral yang sangat serius. Ada beberapa alasan mengapa fenomena "Sanad Karbitan" ini dianggap merusak tatanan keilmuan Islam:
Hilangnya Adab Talaqqi: Esensi sanad adalah Talaqqi (belajar tatap muka). Mendapatkan sanad secara instan tanpa pernah mengaji kitabnya di depan guru adalah penghinaan terhadap proses pendidikan itu sendiri.
Tadlis (Penipuan Narasi): Mencantumkan nama tokoh besar sebagai sandaran guru, padahal tidak pernah mengambil satu bab ilmu pun darinya, adalah bentuk kedustaan intelektual. Ini dilakukan hanya agar terlihat "wah" di hadapan umat yang minim literasi.
Tubuh Tanpa Nyawa: Para ulama menyebut sanad sebagai "ruh". Sanad yang didapat melalui klaim sepihak tanpa bimbingan (tarbiyah) adalah tubuh tanpa nyawa—kosong dari keberkahan dan hanya menyisakan kebanggaan semu (ujub).
Dampak Pembodoaan Publik
Strategi "sandaran instan" ini sangat berbahaya karena menciptakan standar ganda dalam masyarakat. Kelompok ini memanfaatkan ketidaktahuan umat dengan menonjolkan simbol-simbol kuno (seperti manuskrip yang belum teruji filologinya) untuk menutupi keraguan publik atas klaim nasab mereka yang sebelumnya gagal.
Bagi pendukung yang fanatik, daftar nama panjang dalam ijazah tersebut dianggap sebagai mukjizat. Namun bagi pencari ilmu sejati, ini adalah "pembegalan" nama besar tokoh masa lalu demi kepentingan politik identitas dan kepemimpinan golongan.
Kesimpulan
Alih strategi dari nasab ke sanad yang dilakukan Imaduddin Cs terlihat jelas sebagai upaya kompensasi atas hilangnya legitimasi darah. Namun, ijazah yang didapat tanpa belajar, tanpa etika, dan penuh dengan klaim paksa, jauh dari kata barokah. Sudah saatnya umat sadar bahwa kemuliaan seorang ulama diukur dari kejujuran proses belajarnya, bukan dari seberapa lihai ia mencatut nama besar di atas secarik kertas ijazah dadakan demi ambisi pribadi.
