Sullam Taufiq bukan karya Habib Abdullah bin Husein??? (Menjawab fitnah Jazuli PWI-LS)
Sullam Taufiq bukan karya Habib Abdullah bin Husein???
(Menjawab fitnah Jazuli Lc)
Tulisan Facebook Gus Jazuli Lc (jpg) seakan ingin terlihat “ilmiah” karena membawa istilah manuskrip, tetapi justru bermasalah secara metodologi. Ia mengambil kesimpulan besar dari indikasi yang sangat lemah, sambil mengabaikan kesaksian ulama yang jauh lebih otoritatif.
Pertama, menjadikan ketiadaan nama dalam sebagian data sebagai dalil penafian kepengarangan adalah langkah yang tergesa-gesa. Dalam tradisi penyalinan kitab klasik, sangat lazim terjadi variasi: ada naskah yang lengkap, ada yang terpotong, ada yang kehilangan nisbah penulis dan ada yang tidak mencantumkan penulis karna sudah masyhur. Tidak dicantumkannya nama penulis dalam satu atau beberapa manuskrip bukan berarti otomatis menafikan kepemilikan karya tersebut. Justru yang diperlukan adalah komparasi manuskrip secara luas, bukan mengambil satu-dua contoh lalu dijadikan kesimpulan final.
Kedua, argumen bahwa Nadzam Sullam karya Mbah Hamid Pasuruan (begitu juga sambutan KH. Sahal Mahfudz) tidak mencantumkan nama penulis ketika menazomkan Sullam at-Taufiq juga tidak kuat. Nazam atau ringkasan seringkali fokus pada isi, bukan pada aspek bibliografis. Banyak karya nazam dalam tradisi pesantren yang tidak menyebutkan penulis kitab asal, bukan karena menolak atribusi, tetapi karena tujuan utamanya adalah pedagogis, bukan dokumentatif. Maka, menjadikan ini sebagai dalil penafian adalah bentuk kekeliruan dalam memahami genre karya.
Ketiga, penafian data yang lebih akurat. Kalau kita baca tulisan Jazuli ini, kita akan menyadari bahwa tulisan ini tidak menampilkan manuskrip yang kuat. Termasuk tuduhan terkait manuskrip madura yang disinggung dalam postingan. Tidak mungkin data lemah bisa dijadikan argumen untuk mematahkan data yang lebih akurat.
Apa ada yang lebih akurat???
Di sisi lain, tulisan tersebut justru mengabaikan kesaksian para ulama besar yang memiliki otoritas dalam bidang ini. Pengakuan dari Syekh Nawawi al-Bantani saja sudah memiliki bobot yang sangat tinggi, mengingat kedalaman ilmunya dan kedekatannya dengan tradisi keilmuan Haramain. Dalam Syarah Sullamnya beliau mengiyakan Habib Abdullah bin Husein bin Thahir adalah pengarang Sullam Taufiq :
إن رسالة الشيخ عبد الله بن الحسين بن طاهر بن محمد بن هاشم باعلوي طيب الله ثراه وجعل الجنة مأواه، لما علق بها كثير من الوفود، وكانت محتاجة إلى بيان المقصود، وحوت مع صغير الحجم وحسن الاختصار ما لم يحوه كثير من الكتب الكبار، أمرني بعض الأعزة على أن أشرحها شرحاً وجيزاً دمثاً سلساً ، لا عويصاً ولا شرساً ، فامتثلت أمره، وإني لست من هذا القبيل ولا أستطيع أن أسلك إلا بتوفيق الله تعالى هذا السبيل.
Belum lagi diperkuat oleh kesaksian para ulama lain seperti para habaib dan masyayikh yang dikenal memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Sykeh Muhammad bin Salim Ba Bashil juga meyakini bahwa Sullam Taufiq adalah karya dari Habib Abdullah bin Husein. Beliau memyampaikan :
ومن أحسن ما صنف وأجمع ما ألف المتن الحاوى لعيون فنون الأحكام الشرعية والأساليب والحكم الأديبة المأمور بالإصغاء إليها بالمسامع وبالحث لسماعها إلى المساجد والجوامع المطوى على فصل الخطاب القاطع والقول الجامع الذي أذعن لبلاغته وترتيبه كل ذي تحرير وتقرير لما وجد فيه مع صغر حجمه ما لا يوجد في أكبر منه بكثير وعكف وحث على قراءته وتدريسه وشرحه سماسرة أهل العلم من كل تحرير وكيف لا والذي أنشاه خاتمة المحققين ونبراس أهل دهره السابقين واللاحقين من عقدت عليه في عصره ألوية المجددين قطب الزمان وغوث المكان صاحب الكرامات والشان ذو الذهن الذى كالزناد قادح والفكر الذي لخزائن العلوم فاتحالذي خاض بحر جميع العلوم بالنظر الناصح صاحب العزم الباهر والنور السافر والسر القاهر سيدى وسندى الحبيب عبد الله بن حسين بن طاهر بن محمد بن هاشم با علوى قدس الله أرواحهم ونفعنا بهم في الدارين وحققنا بمحبتهم لندخل في حزبهم آمين
Begitu pula Habib Umar bin Hafidz pada 25 Muharram 1435 H menyampaikan menyampaikan dalam taqridznya :
أما بعد: فإن كتاب سلم التوفيق لسيدنا الإمام العارف بالله الحبيب عبد الله بن حسين بن طاهر من أنفع وأنور وأبرك وأطيب وأعجب ما ألف في مبادئ ومهمات علوم الشريعة المطهرة، يظهر أثر الانتفاع والاستفادة والتنوير سريعاً لقارئه وسامعه والمتأمل فيه وتنبعث في بواطنهم باعثة التوفيق للعمل بما يحتويه، والمحبة الله وما يرضيه.
Hal senada disampailan oleh Habib Umar bin Hamid al-Jilani pada tgl 19 ramadan 1435 H:
ومن هؤلاء العلماء الربانيين العلامة الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر فقد كتب هذا المختصر الجامع النافع المفيد وأسماه (سلم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق) ونال قبولاً ، واعتنى به أهل العلم شرحاً ونظماً وتدريساً، فعم به الانتفاع لأنه سلم يرقى به إلى أعلى يفاع، وهو الحصول على محبة الله جل وعلا .
Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam penetapan kepengarangan kitab, kesaksian ulama mu’tabar seperti ini tidak bisa begitu saja disingkirkan hanya karena adanya beberapa manuskrip yang tidak mencantumkan nama.
Dengan demikian, tulisan Jazuli Lc tersebut tampak lebih sebagai klaim spekulatif daripada kajian ilmiah yang matang. Ia memilih data yang mendukung kesimpulan awalnya, namun mengabaikan data yang lebih kuat dan lebih otoritatif. Sikap seperti ini tidak mencerminkan objektivitas ilmiah, melainkan kecenderungan untuk membenarkan asumsi sejak awal.
Kesimpulan yang lebih proporsional adalah: selama tidak ada bukti kuat yang secara tegas menafikan kepengarangan tersebut, dan selama ada penguatan dari ulama-ulama besar yang kredibel, maka penisbatan Sullam at-Taufiq kepada Habib Abdullah bin Husain bin Tahir tetap memiliki dasar yang jauh lebih kokoh dibandingkan klaim penolakannya.
