NAIFNYA GEROMBOLAN PEMBEGAL NASAB: Antara Ambisi dan Hilangnya Adab

 


Selasa, 28 April 2026

Faktakini.info

NAIFNYA GEROMBOLAN PEMBEGAL NASAB: Antara Ambisi dan Hilangnya Adab

Belakangan ini, ruang publik kita disesaki oleh narasi-narasi provokatif yang mencoba menggugat struktur nasab Ba’alawi yang telah mapan selama berabad-abad di Nusantara. Gerakan yang awalnya mengklaim diri sebagai "kajian ilmiah" ini, nyatanya kian hari kian menunjukkan wajah aslinya: sebuah gerakan pembegalan kehormatan yang menggunakan segala cara demi menjatuhkan marwah sesama Muslim.

Manipulasi Sejarah: Mencampuradukkan Madu dan Racun

Kenaifan paling fatal dari gerombolan ini adalah upaya mereka membenturkan sejarah dengan cara yang sangat dangkal dan jahat. Mereka dengan sengaja mengaburkan sosok Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir (leluhur klan Ba’alawi) dengan Ubaidillah bin Ziyad (Gubernur Kufah era Umayyah).

Ini adalah bentuk pembodohan publik yang ekstrem. Ubaidillah bin Ziyad adalah pelaku sejarah yang bertanggung jawab atas tragedi pembantaian Karbala, sementara Ubaidillah bin Ahmad adalah keturunan suci dari korban tragedi tersebut (Imam Husain). Menyamakan keduanya hanya karena kemiripan nama adalah tindakan yang tidak hanya tuna-sejarah, tapi juga manipulasi intelektual yang keji. Bagaimana mungkin seorang cucu yang menjaga tradisi spiritualitas Ahlul Bait di Yaman disamakan dengan sosok yang menumpahkan darah leluhurnya sendiri di Irak? Memaksakan narasi ini hanya menunjukkan bahwa gerombolan ini telah kehabisan argumen valid, sehingga harus memungut sampah fitnah untuk tetap eksis.

Dari Meja Diskusi ke Jalanan

Jika benar gerakan ini adalah perjuangan ilmiah, mengapa cara-cara yang digunakan justru menyerupai "premanisme jalanan"? Kita menyaksikan munculnya spanduk-spanduk penolakan, penghadangan pengajian, hingga intimidasi fisik terhadap para penceramah.

Ketika argumen di atas kertas mulai "rungkad" atau patah di hadapan fakta literatur dan pengakuan lembaga nasab internasional, mereka beralih ke cara-cara yang intimidatif. Pembegalan pengajian adalah bukti nyata bahwa gerombolan ini tidak sedang mencari kebenaran, melainkan sedang mencari panggung keributan dengan cara-cara yang tidak beradab.

Mencatut Nama Wali Songo

Sangat ironis ketika gerombolan ini membawa-bawa nama besar Wali Songo sebagai tameng perjuangan mereka. Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara dengan kelembutan, ilmu yang mendalam, dan penghormatan tinggi terhadap garis keturunan. Mengaku sebagai penerus Wali Songo namun menggunakan lisan yang tajam dan perilaku yang memecah belah umat adalah sebuah kontradiksi yang memuakkan.

Penutup: Masyarakat Harus Cerdas

Fenomena ini menjadi ujian bagi kedewasaan beragama kita. Strategi "menghalalkan segala cara" untuk menjatuhkan satu kelompok hanya akan meninggalkan luka sosial yang dalam. Masyarakat perlu menyadari bahwa di balik hiruk-pikuk gugatan nasab ini, ada kenaifan besar yang dipaksakan. Saat data tak lagi mampu bicara, maka fitnah dan cara-cara jalananlah yang dipaksa bekerja.