Buletin DPD FPI Jabar ke-17 Tekankan Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 


Jum'at, 24 April 2026

Faktakini.info, Jakarta - Dewan Pimpinan Daerah Front Persaudaraan Islam (DPD FPI) Jawa Barat kembali menerbitkan buletin dakwah edisi ke-17 yang terbit pada Jumat, 24 April 2026 bertepatan dengan 6 Dzulqa’dah 1447 H.

Dalam buletin tersebut, disampaikan pesan dakwah dari Imam Besar Habib Rizieq Shihab yang tengah melakukan safari dakwah di Markaz PERKID (Pertubuhan Kebajikan Darul Islam), Malaysia. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan pentingnya menegakkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai pilar utama menjaga keselamatan umat.

Mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Habib Rizieq mengingatkan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini diperkuat dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 110) yang menyebutkan bahwa umat terbaik adalah mereka yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kerusakan moral dalam masyarakat berawal dari ditinggalkannya prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Dalam kondisi tersebut, nilai-nilai dapat terbalik, di mana kemungkaran dianggap sebagai kebaikan dan sebaliknya.

Habib Rizieq juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuannya, baik dengan tangan, lisan, maupun hati.

Dalam penutupnya, beliau mengajak umat Islam untuk tetap istiqamah dalam berdakwah, saling mendukung dalam kebaikan, serta menjaga masyarakat dengan hikmah dan kebijaksanaan agar terhindar dari kerusakan yang lebih besar.

Buletin ini juga memuat ajakan kepada masyarakat untuk menyalurkan donasi kemanusiaan dan perjuangan Islamiyah melalui lembaga dakwah Persaudaraan DPD FPI.

TRANSKRIP ISI BULETIN

BULETIN DPD FPI JAWA BARAT

Edisi ke-17 | 6 Dzulqa’dah 1447 H | 24 April 2026

Terbit setiap Jum’at

Dalam safari dakwahnya di Markaz PERKID (Pertubuhan Kebajikan Darul Islam) Malaysia, Habib Rizieq Syihab menyampaikan nasihat penting tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Beliau menukil riwayat dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali sebagai peringatan bagi umat agar tidak meninggalkan tanggung jawab menjaga kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Beliau menegaskan bahwa kemuliaan umat Islam sangat bergantung pada tegaknya prinsip tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnas, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar”

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar.”

(QS. Ali Imran: 110 – Al-Qur’an)

Ayat ini menunjukkan bahwa status “umat terbaik” hanya bisa diraih jika amar ma’ruf nahi munkar terus ditegakkan.

Selanjutnya, beliau menyampaikan riwayat dari sahabat Abu Umamah al-Bahili tentang sabda Nabi Muhammad yang menggambarkan kondisi umat di masa depan. Tahap awal kerusakan umat digambarkan sebagai berikut:

“Kaifa bikum idza fasadat nisa’ukum, wa fasaqa syababukum, wa taraktumul jihad”

“Bagaimana keadaan kalian jika perempuan kalian rusak, pemuda kalian fasik, dan kalian meninggalkan jihad?”

Para sahabat merasa heran, namun Nabi menegaskan bahwa kondisi itu akan terjadi.

Kemudian Nabi menggambarkan keadaan yang lebih buruk:

“Kaifa bikum idza lam ta’muru bil ma’ruf wa lam tanhau ‘anil munkar”

“Bagaimana keadaan kalian jika kalian tidak lagi menyuruh kepada yang makruf dan tidak mencegah dari yang munkar?”

Inilah titik awal melemahnya kontrol moral dalam masyarakat.

Lebih parah lagi, Nabi menjelaskan rusaknya standar nilai:

“Kaifa bikum idza ra’aitumul munkara ma’rufan wal ma’rufa munkaran”

“Bagaimana keadaan kalian jika kalian melihat kemungkaran sebagai kebaikan, dan kebaikan sebagai kemungkaran?”

Kondisi ini terjadi karena kemungkaran sudah menjadi kebiasaan hingga dianggap normal. Puncak kerusakan adalah ketika arah masyarakat benar-benar terbalik.

“Kaifa bikum idza amartum bil munkar wa nahaitum ‘anil ma’ruf”

“Bagaimana keadaan kalian jika kalian justru menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari yang makruf?”

Dalam kondisi ini, kebenaran dianggap ancaman, sementara keburukan justru didukung.

Sebagai penguat, beliau juga menyampaikan hadis:

“Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadih, fa in lam yastathi’ fa bilisanih, fa in lam yastathi’ fa biqalbih, wa dzalika ad’af al-iman”

(HR. Shahih Muslim)

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab sesuai kemampuan dalam menghadapi kemungkaran.

Dari keseluruhan penjelasan tersebut, Habib Rizieq Syihab menegaskan bahwa:

Amar ma’ruf nahi munkar adalah pilar utama keselamatan umat

Jika ditinggalkan, kerusakan moral akan meluas

Bahkan dapat mengundang fitnah, musibah, dan bencana

Beliau menutup dengan ajakan agar umat tetap istiqamah dalam dakwah, saling mendukung dalam kebaikan, serta menjaga masyarakat dengan hikmah dan kebijaksanaan, agar terhindar dari kerusakan yang lebih besar.

Tim Redaksi Lembaga Dakwah Persaudaraan DPD FPI

Salurkan Donasi Kemanusiaan dan Perjuangan Islamiyah melalui:

Rekening Kemanusiaan: HILMI Persaudaraan Islam (BSI)

Rekening Palestina: Komite Persaudaraan Al-Aqsho (BSI)

Rekening Media & Perjuangan