Prof. Sofian Effendi Akui Ada Ancaman akan Dipolisikan Pendukung Jokowi soal Dugaan Ijazah Palsu
Jum'at, 18 Juli 2025
Faktakini.info
SAYA TIDAK MAU URUSAN POLISI, SAYA SUDAH 80 TAHUN
--------------------------------------
Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2002–2007, Prof. Dr. Sofian Effendi, akhirnya menjelaskan mengapa ia menarik kembali seluruh pernyataannya terkait ijazah Presiden ke-7 Jokowi yang menghebohkan itu.
Kepada wartawan, Sofian membenarkan, Rismon Sianipar, ahli forensik digital dan alumni UGM yang menggugat keaslian ijazah Jokowi dan beberapa alumni UGM lain berkunjung ke rumahnya.
Mereka mengajak Sofian Effendi untuk melakukan telekonferensi dengan alumni lain yang tinggal di sejumlah kota berbeda membicarakan kebebasan akademik.
“Mereka hanya bilang, ini kita ngomong-ngomong dengan para alumni dari kota lain. Memang ada mantan murid saya dulu dari Aceh, kemudian Kalimantan yang berhubungan di situ. Itu pembicaraan orang dalam lah,” kata Sofian menjelaskan kepada wartawan, Kamis (17/7/2025).
Sofian mengakui dirinya tidak tahu jika percakapan itu kemudian dipakai untuk mengomentari isu ijazah palsu mantan Presiden Jokowi.
Selama percakapan dengan alumni, ia mengira bahwa obrolan itu berkaitan dengan ruang kebebasan akademik dan hanya diperuntukkan bagi internal, bukan publik.
“Saya tidak sadar itu akan dipublikasikan. Saya tidak menyangka akan dipublikasikan seperti itu. Omongan saya tidak pantas untuk diomongkan (ke publik),” beber dia.
Untuk itu, Sofian meminta maaf kepada semua pihak yang dia sebutkan di dalam video tersebut, tidak terkecuali Rektor UGM saat ini, Prof Ova Emilia.
“Saya tidak ingin diadu dengan Prof. Ova. Itu tidak baik. Bagaimanapun, Saya adalah anggota organisasi UGM,” jelasnya.
---------------------------------***---------------------------------
Diancam Penggemar Jokowi
Setelah video itu viral, Sofian mengakui ada goncangan di kampus UGM hingga munculnya bentuk ancaman pelaporan kepada polisi dari penggemar Jokowi.
Sofian mengatakan dirinya mengetahui ada surat dari kelompok penggemar Jokowi yang diunggah ke media online.
Link dari media online itu ia dapat dari kirim pesan WhatsApp mantan mahasiswanya.
“Para pendukung mantan presiden itu, mereka gerah sepertinya karena soal ijazah disebut. Mereka menyebut akan mengadukan saya pada Bareskrim. Maka, saya meminta maaf atas pernyataan saya. Saya tidak mau harus berurusan dengan polisi soal ini, apalagi saya sudah berusia 80 tahun dan keluarga saya juga terganggu,” bebernya.
Dalam kesempatan ini, Sofian mengaku keberatan terkait peredaran video tersebut.
Dia bahkan berencana untuk melayangkan langsung surat keberatan kepada Rismon dan kawan-kawan.
Sofian meminta, video pembicaraan tentang ijazah Jokowi tersebut bisa ditarik dari peredaran.
Menurutnya, hal itu penting dilakukan untuk tetap menjaga ketenangan UGM dan mempertahankan ketentraman secara nasional.
Sofian juga sempat mengeluarkan surat pernyataan sikap yang ia tandatangani dengan tinta biru.
“Terkait dengan informasi yang tersebar dari live streaming di kanal YouTube Langkah Update dengan judul ‘Mantan Rektor UGM Buka-Bukaan! Prof Sofian Effendy Rektor 2002–2007! Ijazah Jokowi & Kampus UGM!’ pada tanggal 16 Juli 2025 tentang ijazah atas nama Bapak Joko Widodo, saya menyatakan bahwa pernyataan Rektor UGM Prof. Dr. Ova Emilia tertanggal 11 Oktober 2022 memang sesuai dengan bukti-bukti yang tersedia di Universitas.
Sehubungan dengan itu, saya menarik semua pernyataan saya di dalam video tersebut dan memohon agar wawancara dalam kanal YouTube tersebut ditarik dari peredaran.
Saya mohon maaf setulus-tulusnya kepada semua pihak yang saya sebutkan pada wawancara tersebut.
Demikian pernyataan saya dan saya sangat berharap agar wacana tentang ijazah tersebut dapat diakhiri.
Terima kasih.”
Yogyakarta, 17 Juli 2025
Prof. Dr. Sofian Effendi
Mantan Rektor UGM 2002–2007
---------------------------------***---------------------------------
Respons UGM soal Pernyataan Sofian Effendi
Pernyataan Sofian Effendi terkait kasus ijazah Jokowi pada tayangan live streaming channel YouTube itu, turut direspons pihak UGM.
Melalui keterangan dalam situs resminya, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut, pernyataan yang bersangkutan berbeda dengan data dan bukti-bukti akademik yang dimiliki pihak Fakultas Kehutanan UGM.
"Kami menyayangkan pihak-pihak yang telah menggiring beliau untuk menyampaikan opini yang keliru dan tidak berdasar. Pernyataan tersebut akan berdampak hukum dan menjadi risiko bagi Bapak Sofian Effendi secara pribadi," tulis keterangan di ugm.ac.id.
UGM menegaskan, pihaknya tetap pada pernyataan yang disampaikan dalam siaran pers 15 April 2025 yang dirilis di website UGM.
Pada siaran pers itu, disebutkan bahwa Joko Widodo adalah alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
"Yang bersangkutan telah melaksanakan seluruh proses studi yang dimulai sejak tahun 1980 dengan nomor mahasiswa 80/34416/KT/1681 dan lulus pada tanggal 5 November 1985,"
UGM pun menegaskan tidak terkait konflik kepentingan antara Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) dengan Saudara Joko Widodo.
"UGM sebagai institusi publik yang melaksanakan sistem pendidikan tinggi di Indonesia terikat Peraturan Perundang-undangan mengenai perlindungan data pribadi dan Keterbukaan Informasi Publik."
"Oleh sebab itu, UGM hanya bersedia menunjukkan data yang bersifat publik sedangkan data yang bersifat pribadi hanya akan diberikan jika diminta secara resmi oleh aparat penegak hukum," terang UGM.
---------------------------------***---------------------------------
Ragukan Keaslian Ijazah Sarjana Jokowi
Sebelumnya, dalam wawancara yang ditayangkan di akun YouTube Langkah Update dan Balige Academy, Kamis (17/7/2025), itu, Sofian Effendi meyakini Jokowi tak pernah mendapat predikat sarjana atau insinyur dari UGM.
Jokowi disebutnya hanya sampai program Sarjana Muda.
Nilai Jokowi disebutnya tidak cukup, sehingga tidak lulus program Sarjana (S1).
Sofian mengaku mendapat informasi ini berdasarkan cerita yang dia dengar dari sejumlah guru besar di Fakultas Kehutanan UGM.
Ia bertanya soal polemik Jokowi ini ke sejumlah guru besar Fakultas Kehutanan, yang dulunya juga kuliah seangkatan dan ada yang beberapa tingkat di atas Jokowi.
Dari informasi yang dia dapatkan, Jokowi masuk tahun 1980, bersama kerabatnya, Hari Mulyono.
"Pada tahun 1980 masuk, ada dua orang yang masih bersaudara yang masuk (Fakultas) Kehutanan, itu satu Hari Mulyono kemudian Joko Widodo,"
Keduanya, kata Sofian, dikenal beda nasib soal prestasi akademik.
Hari Mulyono, dikenal sebagai mahasiswa yang perform (pintar) dan aktif dalam kegiatan, termasuk mendirikan komunitas mahasiswa pendaki gunung Silvagama.
Tahun 1985, Hari Mulyono lulus program sarjana.
Beda dengan Jokowi, yang kata Sofian, tidak bisa lanjut ke program sarjana.
"Tapi Jokowi ini menurut informasi dari para profesor dan mantan dekan juga, itu pada tahun 1980-an tidak lulus. Juga saya lihat di dalam transkrip nilai yang ditampilkan oleh (Polri), kan IPK-nya itu tidak sampai 2," tutur Sofian.
Ia menjelaskan, saat itu kampus-kampus Indonesia masih pakai program sarjana muda dan sarjana.
Bila di fase sarjana muda nilai tak mencukupi, maka tak bisa lanjut ke jenjang sarjana.
Itulah mengapa, nilai Jokowi itu hanya membawanya sampai program sarjana muda dengan gelar B.Sc (bachelor of science), bukan Ir atau Insinyur.
Sofian mengatakan, Jokowi kena D.O atau drop out.
"Pada waktu itu masih ada sarjana muda dan doktoral jadi dia tidak lulus, tidak qualified, di-DO istilahnya, hanya boleh sampai sarjana muda, B.sc," kata Sofian menjabat Rektor UGM tahun 2002-2007 ini.
Sofian mengatakan, benar bila Jokowi punya ijazah Sarjana Muda dari UGM.
Tapi bila ada ijazah yang menerangkan Jokowi bergelar Insinyur, maka itu adalah ijazah palsu.
Rismon lalu menanyakan, dari mana Sofian mendapat informasi itu.
Sofian menjawab, ia mendengarnya dari sejumlah profesor di Fakultas Kehutanan UGM.
"Sumber saya valid," kata Sofian.
---------------------------------***---------------------------------
Pernah Dilantik Jokowi
Prof. Dr. Sofian Effendi, lahir di Bangka, 28 Februari 1945, adalah Guru Besar Ilmu Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada.
Ia pernah menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada dari tahun 2002 sampai 2007 dan menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada tahun 1999 hingga 2000.
Menariknya, meski meragukan bila Jokowi punya gelar insinyur dari UGM, tapi Sofian Effendi pernah dilantik oleh Jokowi pada tahun 2014 sebagai Komisioner Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).
